Oleh: Wawan Gunawan (Direktur Arass Institut dan Peneliti Aktif)

ADUH..
Untung Kanjeng Rasul orangnya baik dan bijaksana. Beliau menerima cinta kepadanya dalam bentuk apa saja. Padahal, saat berulang kita menyebut bahwa betapa kita mencintainya, seiring dengan itu kita khianati ajarannya. Kita hanya melulu mengaku cinta, menyangka hanya cukup dicakap. Padahal kita tahu, seharusnya seorang pecinta bertekuk lutut tanpa syarat melakukan apa yang disukai oleh orang yang dicintainya. Tetapi percintaan kita dengan Kanjeng Rasul agak aneh, dan bahkan penuh muslihat. Ketika Beliau mengajarkan kasih sayang, kita mempraktikan kebengisan. Ketika beliau mencontohkan kesederhanaan kita membangun kemewahan. Ketika beliau menunjukkan kehalusan budi pekerti, kita mengumbar kedengkian. Kita bersandar kepada sebuah alasan, bahwa jaman sudah berubah. Tantangannya sudah silih berganti. Kita menumpuk kekayaan, konon, agar kita lebih bisa leluasa mengembangkan ajaran beliau. Kita menebarkan kebengisan dengan dalih menjaga kemurnian ajarannya. Dan kita memelihara kedengkian, demi melindungi martabat beliau dari ajaran-ajaran yang kita anggap sesat. Untuk membela Kanjeng Rasul, kemudian kita menyerang kelompok lain.
Cinta kita kepada Kanjeng Rasul begitu diumbar, sehingga saking besarnya dengung cinta yang kita khotbahkan, kita lupa, terhadap hakikat cinta yang dibangun oleh Beliau. Kita lupa, atau pura-pura lupa, cerita ketika Beliau pada akhirnya menaklukan rezim Mekah, sedikitpun beliau tidak memanfaatkan kemenangannya itu untuk semena-mena. Semua hak sipil orang Mekah tetap beliau jaga. Bahkan, agama Islam pun tidak beliau paksakan untuk dipeluk oleh seluruh warga Mekah yang telah dikalahkannya. Beliau tetap berpegang kepada prinsip, “tidak ada paksaan dalam agama”. Bayangkan jika kita menjadi pemenang dalam sebuah petarungan: rasanya begitu bahagia, jika lawan yang telah kita kalahkan itu manut semaunya kita.
Cinta beliau tanpa batas. Bahkan terhadap orang yang membencinya. Ketika para penduduk melemparinya dengan batu, kemudian Malaikat menawarkan jasa untuk mengubur seluruh kota itu dengan sebuah gunung, beliau bilang “jangan”. Ini agak lain dengan perilaku kita. Tersinggung saja sedikit, kita akan mengutus sejumlah pasukan untuk menyerang.
Kanjeng Rasul memilih jalan perang, setelah berbagai cara diplomasi tidak mempan. Namun, beliau selalu memilih strategi perang yang mengupayakan sedikitnya jumlah korban, baik dari pihak beliau maupun dari pihak musuh. Cara perang seperti Kanjeng Rasul ini, populer menjadi jampe silat, “Ya Allah, salametkeun abdi sareng musuh abdi”. Agak berbeda dengan kita sekarang ini, Kita memilih berperang (berseteru) kapan saja kita mau, dengan strategi habisi sampai ke akar-akarnya, kalau perlu hingga tujuh turunan.
Kanjeng Rasul pernah mempunyai tetangga seoarang yahudi. Dia pernah bersabda, “siapa yang menyakiti tetanggaku (yang Yahudi itu), maka dia telah menyakiti aku”. Itu artinya, Kanjeng rasul menghormati siapa saja tetangganya. Bedanya dengan kita, kita begitu hoby menuduh orang yang tidak sepaham dengan kita dengan sebutan Yahudi.
Kanjeng Rasul hanya makan saat beliau sudah sangat lapar dan berhenti saat beliau belum betul-betul kenyang. Beliau pernah juga bilang, seseorang bukan dari golonganku, jika dia tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya tidak bisa tidur karena lapar. Beliau pernah memarahi seorang perempuan yang bersikap semena-mena terhadap seekor kucing. Padahal perempuan itu dikenal sebagai seorang yang rajin puasa dan shalat. Tetapi Kanjeng Rasul memarahinya sebagai perempuan yang tidak memiliki belas kasih. Kanjeng rasul mengajari kita untuk tidak sembarang membunuh pepohonan. Kanjeng Rasul menegaskan bahwa ajarannya adalah Rahmat bagi seluruh semesta. Rahmat, kasih sayang bagi siapa saja, dan bagi seluruh ciptaan Tuhan.
Yang ada dipikiran Kanjeng Rasul bukan dirinya, tetapi umatnya. Setarikan nafas lagi saat beliau wafat, wasiatnya adalah umtaku, umatku, umatku. Lagi-lagi kita agak berbeda. Kita ingin umatlah yang memikirkan kita.
Suatu hari beliau kanjeng Rasul pernah bersabda, “andai saja besok kiamat, aku akan tetap menanam kurma”. Dengan demikian beliau adalah orang yang optimis. Ingin selalu berbuat untuk generasi yang akan datang. Karena menanam kurma hasil tanamnya tentu bukan untuk beliau, tetapi untuk generasi setelahnya. Kita, pecinta beliau, punya sikap yang agak lain. Kita habisi hutan-hutan, kita tutupi daerah resapan air, kita ekspoitasi sumber daya alam, tanpa sedikitpun tersadar bagaimana nanti generasi di bawah kita. Kita tidak peduli andai anak cucu kita terendam banjir karena akibat keserakahan kita sekarang.
Padahal kita juga tahu, Beliau pernah berujar, “bukan bagian dari golonganku, orang yang saat ia terjaga dari tidurnya, kemudian tidak memikirkan nasib orang lain”. Kita Kanjeng Rasul Fans Club, dari bangun tidur hingga tidur lagi yang dipikirkan adalah diri kita sendiri. Orang lain Is nothing.
….
….
Setiap bulan mulud seperti sekarang ini, saya membiasakan membaca fragmen dari cerita-cerita Nabi yang telah ditulis di banyak buku. Tadinya bertujuan untukmeneguhkan kecintaan saya kepada beliau. Semakin banyak kisah beliau yang kita ingat, maka akan semakin sayang kita kepada beliau.
Nyatanya, kali ini saya salah duga. Semakin banyak mengetahui kisah beliau, semakin saya malu mengaku cinta. Karena betapa berbedanya berbagai ritus yang saya persembahkan untuk mengagungkan cinta ini, dengan perilaku saya. Saya merasa sangat jauh panggang dari api. Saya merasa berada di bawah sumur yang teramat dalam, sedangkan makna cinta beliau berada di langit yang terlampau tinggi.
Aduh, saya harus tahu diri. Saya malu mengaku cinta. Beliau sumber kedamaian, sedang saya biang huru hara. Aduh, bagaimana ini..
Sekiranya diizinkan, saya hanya ingin membasuh kakinya, dan mengungkap maaf: cintaku belum berbukti..
Seandainya diberi kesempatan, saya ingin menaburkan bunga pada jalanan yang akan Beliau lewati..
Tetapi, apakah cinta saya layak ditujukan kepadanya?
Maka dari itu, salam dan shalawat hanya berani saya gumamkan dalam hati, tanpa gembar gembor. Sulit saya membayangkan, jika pada suatu hari nanti, ketika betul-betul bertemu Beliau, beliau bertanya: apa buktimu mencintaiku?
Sulit. Sulit untuk sekedar saya bayangkan.
Tetapi entah, saya begitu percaya, beliau baik dan bijaksana. Rasanya, beliau akan tersenyum dengan arif melihat kegusaran cinta saya yang lugu. Dan beliau akan lebih melebarkan senyumannya, ketika saya menuliskan surat pengakuan ini di facebook bikinan orang Yahudi yang tentu saja turunan dari tetangganya itu.. [WG]