oleh Agus Sunyoto pada 06 Mei 2011 jam 21:46

Mencuci Otak Pencuci Otak NII

Gara-gara tidak pulang ke rumah dan tidak muncul di kampus selama sepekan, Sufi Sudrun dicari anak-anak dan isterinya ke pesantren. Pasalnya, sebelum pergi Sufi Sudrun yang aktif membina anak-anak jalanan sempat bercerita kepada beberapa orang anak binaannya bahwa ia akan mengikuti kegiatan mahasiswa membincang NII. Kepada Guru Sufi, isteri dan anak-anak Sufi Sudrun menyampaikan kekhawatiran mereka tentang kemungkinan suami dan ayah mereka jadi korban pencucian otak NII. “Kami tidak bisa membayangkan, Mbah Kyai, kalau bapak sampai jadi korban cuci otak NII,” kata Mahmud, anak sulung Sufi Sudrun,”Sejak bapak mengajukan pensiun dini, kami sudah kesulitan komunikasi dengan beliau. Bagaimana nanti jika bapak dicuci otaknya oleh NII, bisa-bisa kami semua tidak bisa bicara apa pun dengan beliau.”

“Bermohonlah kepada Allah agar senantiasa melindungi bapak kalian,” kata Guru Sufi memberi penguatan hati,”Aku percaya bapak kalian akan selamat. Sekarang pulanglah dan berdoa kepada Allah agar bapak kalian selalu dalam kuasa perlindungan-Nya.”

Ternyata, belum satu jam anak-anak dan isteri Sufi Sudrun pulang, warga pesantren diherankan oleh kemunculan Sufi Sudrun bersama tiga orang laki-laki berusia sekitar 30-40 tahunan. Kepada Guru Sufi dan Sufi tua serta Dullah yang lagi omong-omong, Sufi Sudrun memperkenalkan tiga orang laki-laki yang bersamanya itu sebagai orang-orang yang berprofesi sebagai ‘brain and psyche laundryman’ alias ‘tukang binatu otak dan jiwa’ yang bekerja untuk NII. Sambil ketawa Sufi Sudrun menjelaskan,”Mereka bertiga inilah yang telah mencuci otak dan jiwa mahasiswa-mahasiswa yang terpengaruh gerakan NII.”

“Tapi bagaimana ini pakdhe, kok mereka malah sampean bawa ke sini?” tukas Dullah heran, “Apa mereka akan sampeyan suruh mencuci otak dan jiwa warga pesantren?”

“Hehehe,” Sufi Sudrun ketawa terkekeh-kekeh,”Mereka itu rencananya mau mencuci otak dan jiwaku. Tapi entah kenapa, justru aku yang sebaliknya berhasil mencuci otak mereka. Tapi semuanya saja, aku mohon untuk hati-hati dan tidak mengganggu, karena kesadaran mereka itu baru kubawa dari titik nol (null punk) monade-monade untuk diarahkan ke kesadaran harmoni.”

Tak sampai hati melihat keadaan tiga orang indoktrinator yang kuyu dan tampak seperti linglung, Guru Sufi meminta Sufi Sudrun untuk membawa mereka ke belakang agar mandi dan makan serta tidur. Setelah itu, Guru Sufi menanyai Sufi Sudrun tentang apa yang telah dilakukannya terhadap tiga orang indoktrinator alias ‘tukang binatu otak dan jiwa’ itu. Sambil cengingisan Sufi Sudrun menjelaskan kepada Guru Sufi, bahwa apa yang dilakukannya hanyalah sebuah counter attack terhadap kegiatan brainwashing alias cuci otak alias indoktrinasi yang dilakukan kader NII terhadap dirinya. “Setelah sehari ikut kegiatan brainwashing bersama sekelompok mahasiswa, saya menyimpulkan adanya kegiatan ‘cuci otak’ yang mereka lakukan, dengan mengikuti teori pemikiran kaum empirisme dan teori kaum behavioral psychology,” kata Sufi Sudrun.

“Empirisme dan Behavioral Psychology?” sahut Guru Sufi mengerutkan kening,”Berarti teori-teori John Locke, George Berkeley, Hume, Skinner, Pavlov…begitu?”

“Tepat persis, kang,” sahut Sufi Sudrun.

“Waduh pakdhe, tolong aku diberitahu sedikit tentang teori-teori ‘cuci otak’ itu supaya faham dan tidak jadi korban,” kata Dullah menyela.

“Teori keilmuan empirisme,” kata Sufi Sudrun menjelaskan,”Awalnya dikembangkan Thomas Hobbes, John Locke, George Berkeley, dan David Hume. Thomas Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi adalah permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan (calculus), yaitu penggabungan data inderawi yang sama, dengan cara berlainan. Dunia dan manusia sebagai obyek pengenalan merupakan sistem materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus atas dasar hukum-hukum mekanisme. Dengan pandangan ini, ajaran Hobbes dianggap sebagai sistem materialis pertama dalam sejarah filsafat modern.”

“O begitu ya,” Dullah mengangguk-angguk,”Lalu teori Teori John Locke bagaimana?”

“John Locke, teorinya dikenal dengan nama Tabula Rasa. Ia memiliki asumsi bahwa rasio manusia adalah “as a white paper” dan seluruh isinya berasal dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah (sensation) maupun pengalaman batiniah (reflexion). Pengalaman lahiriah dan batiniah itu menghasilkan ide-ide tunggal (simple ideas), di mana roh manusia yang meski bersifat pasif dalam menerima ide-ide tunggal itu, dengan aktivitasnya roh menggunakan ide-ide tunggal tersebut sebagai anasir yang bisa membentuk ide majemuk (complex ideas), misalnya ide substansi, yaitu jika ide tunggal dapat selalu bersama.”

“Lha kok persis pandangan Islam, kullu mauludin yuladu ala al-fitrah,” sahut Dullah.

“Itu benar, tapi pandangan Islam sudah muncul sejak abad ke-6 Masehi, sedang John Locke memunculkan teorinya baru pada akhir abad ke-17,” kata Sufi Sudrun.

“O begitu ya,” kata Dullah,”Lalu sesudah John Locke teori siapa yang lebih unggul?”

“David Hume yang paling mendominasi,” kata Sufi Sudrun menjelaskan,”Hume memandang seluruh isi pemikiran manusia berasal dari pengalaman yang disebut persepsi (perception). Menurut Hume, persepsi itu ada dua macam, yaitu kesan-kesan (impressions) dan gagasan (ideas). Kesan (impressions) adalah persepsi yang masuk melalui akal budi secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sedang gagasan (ideas) adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan atau gagasan yang bisa dimaknai sebagai cerminan dari kesan-kesan; “kerja” kesan adalah mendahului gagasan. Yang pertama, disebut ‘pengalaman inderawi’ dan yang kedua merupakan konsep makna .”

“Hume membedakan dua jenis kesan, yaitu sensasi (sensation) dan refleksi (reflexion), dan dua jenis gagasan, yaitu memori (memory) dan imajinasi (imagination). Kesan sensasi muncul dari jiwa yang tak diketahui sebabnya, sedang kesan refleksi diturunkan dari gagasan-gagasan. Memory memiliki posisi yang teratur, yaitu kemampuan mengingat kembali berbagai peristiwa sederhana secara teratur. Sedang imajinasi adalah jenis gagasan yang mengkombinasikan ide yang berasal dari kesan-kesan secara asosiasi. Menurut Hume, manusia memiliki kecenderungan intern untuk menghubung-hubungkan gagasan-gagasan melalui “keserupaan”, “kedekatan”, hubungan “efek”, yang disebut ‘relasi natural’.”

“Berdasar epistemologinya ini, Hume menolak konsep substansi yang dikemukakan kaum rasionalis, termasuk konsep kaum empirisme seperti John Locke dan George Berkeley. David Hume tegas menolak keberadaan “aku” sebagai substansi ruhani. Menurut Hume, “pengalaman” semata-mata tidak mengijinkan penerimaan terhadap “aku” sebagai substansi. Sebab dalam empirisme, “aku” tidak lain daripada “a bundle or a collection of perceptions” (perception di sini harus difahami sebagai suatu keadaan kesadaran tertentu). Dengan pandangan epistemologinya, Hume menegaskan bahwa kesadaran manusia dibentuk oleh pengalaman inderawi yang lahiriah maupun batiniah, dan tidak sekali-kali dibentuk oleh innate ideas yang clear dan distinc yang sudah ada sejak manusia lahir sebagaimana keyakinan para pemikir rasionalis.”

“Wooo begitu ya,” Dullah mengangguk-angguk memahami uraian Sufi Sudrun.

“Nah,” sahut Sufi Sudrun menyimpulkan,”Bertolak dari kerangka teoritik kaum empirisis inilah, sebuah praktek fenomenal tentang ‘cuci otak’ dilakukan orang, di mana dengan kerangka teoritik ini dapat diasumsikan bahwa keberadaan seseorang sangat dipengaruhi oleh milieu, di mana pengalaman lahiriah (perception) dan pengalaman batiniah (reflexion) diserap oleh orang seorang dari lingkungan di mana ia hidup. Jika seseorang melihat seekor kuda, misal, maka ia punya kesan tertentu (tentang yang dilihatnya itu); jika ia memikirkan tentang seekor kuda, ia memanggil suatu gagasan, yang merupakan makna baginya dari sebuah istilah “kuda”. Seorang anak yang akan diberi gagasan tentang “mangga”, maka terlebih dulu ia harus mengenal obyek ‘mangga’.”

“Bagaimana jika gagasan tentang sesuatu diberikan tanpa dikenalkan pada obyeknya?” tukas Dullah melempar kemungkinan.

“Itu akan sama ceritanya dengan film God Must be Crazy,” sahut Sufi Sudrun menerangkan,”Sewaktu penduduk Afrika dari Suku Semak menemukan botol Coca-cola yang dilempar seorang pilot dari pesawat, ia menganggap botol itu sebagai “benda ajaib” aneh milik dewa, karena sebelumnya orang-orang Suku Semak tidak pernah mengenal obyek “botol”. Jadi begitulah, kebenaran ungkapan ‘tiap-tiap kelahiran manusia itu fitrah, maka orang tuanyalah yang membentuk anak yang fitrah itu menjadi sesuatu seperti yang diinginkannya; jadi muslim, Yahudi, Majusi, Nasrani, semua tergantung orang tua atau lingkungan yang memasukkan pengalaman lahiriah dan pengalaman batiniah ke dalam diri anak.”

“Lalu yang disebut ‘cuci otak’ alias brainwashing itu apa, pakdhe?”

“Suatu proses indoktrinasi, dengan memberi makna-makna berbeda atas sensasi (sensation) dan refleksi (reflexion) serta memori (memory) sesuai majinasi (imagination) lama yang sudah direkam di dalam a bundle of perception orang seorang, sehingga produk yang dihasilkan adalah seorang manusia baru dengan sudut pandang (frame of refrence) baru yang berbeda dari sebelumnya,” kata Sufi Sudrun.

“Oo begitu tah,” sahut Dullah lantang,”Kalau sekedar itu sih, kayaknya gampang dan aku juga kemungkinan bisa mencuci otaknya orang pakdhe.”

“Ya memang bisa, terutama jika calon korbannya agak goblok, telat mikir, kuper, informasi ketinggalan, wawasannya sempit, picik, dan ada masalah psikologis,” kata Sufi Sudrun.

“Tapi bagaimana sampeyan bisa membuat tiga orang indoktrinator NII itu kayak orang linglung begitu, pakdhe?” tanya Dullah ingin tahu.

“Aku dulu kan pengajar psychodrama,” kata Sufi Sudrun,”Suatu metode diagnosis dan penanganan bagi masalah kepribadian, yang mempunyai hubungan erat dengan metode-metode proyeksi, dan lebih erat lagi hubungannya dengan sosiometri, yang terutama berisi tentang bagaimana menjadikan seorang individu menghasilkan kembali secara spontan susunan suatu situasi yang telah ditemukannya menjadi sangat bermakna bagi kesulitan yang ditangani.”

“Apa itu berkaitan dengan psychiatry dan psychopathology?” tanya Dullah.

Sufi Sudrun mengangguk,”Tapi hanya teorinya saja.”

“Maksud hanya teorinya saja?”

“Ya teorinya saja pakai ilmu jiwa Barat, prakteknya sih melibatkan malan hizb-hizb dan suwuk-menyuwuk,” kata Sufi Sudrun terkekeh-kekeh.

“Walah,” sahut Dullah,”Berarti sampeyan bisa membuat ketiga orang itu gila pakdhe?”

Sufi Sudrun mengangguk lalu diam.