Pasca kemenangan timnas Indonesia atas timnas Philipina dengan agregat gol 2-0, menjadikan timnas melaju ke babak final, suatu prestasi yang sangat dinanti oleh publik nasional, karena di tengah minimnya prestasi dan panceklik kebanggaan di tatar sepak bola Indonesia.
Pada babak final nanti Indonesia akan bermain tandang terlebih dahulu dan tiga hari kemudian bermain kandang di Gelora Bung Karno Senayan. Hal menarik yang patut diteliti dari prestasi timnas kita adalah, semangat juang dan kedisiplinan para pemain timnas dalam memperoleh target menang di setiap pertandingannya. hal ini tentunya tidak bisa dilepas dari peran semua pihak, pemain, pelatih dan PSSI menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses keberhasilan ini.
Sebagai pengamat yang amatir aura kemajuan sepak bola Indonesia itu sudah terlihat ketika Indonesia Mampu menghadirkan timnas Uruguay di setadion Gelora Bung Karno, walaupun timnas mengalami kekalahan yang cukup telak, namun saya melihat ada determinasi yang berbeda yang bisa kita saksikan ketika anak-anak asuh Albert Riedl berjaung dilapangan hijau. ketenangan mengolah bola, keberanian melakukan tusukan ke jantung pertahanan, membuat saya semakin yakin kalau timnas kita akan semakin lebih baik.
Pada pertandingan selanjutnya ketika timnas melakukan pertandingan persahabatan melawan Bangladesh, semakin membuktikan bahwa timnas kita mampu menjawab keinginan riedl bermain apik, disiplin dan determinasi yang tinggi. pertandingan yang berakhir dengan kemenangan telak 3-0 itu, membuat para pengamat sepak bola berkomentar bahwa timnas kita telah menemukan gaya permainan modern yang selama ini sulit ditemukan pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Kemampuan menyerang yang efektif, passing bola-bola pendek yang cantik, serta kekuatan bertahan yang lugas, tidak hanya ditunjukan oleh para pemain yang menempati posisi di belakang tapi pemain yang dulunya punya karakter menyerang pun mampu untuk mengimbangi pertahanan ketika musuh melakukan penyerangan.
Kita tahu tipikal Firman Utina, Okto Maniani dan M Ridwan punya karakter menyerang yang baik, namun mereka juga sangat cepat untuk turun ke belakang ketika musuh menyerang, inilah gaya sepakbola modern yang telah diperagakan timnas Indonesia, sehingga kemenangan demi kemenangan dapat diraih dan akhirnya posisi puncak sebagai finalis sangat realistis untuk didapatkan.
Prestasi tersebut juga mampu menaikan posisi Indonesia di Rangking 127 di bulan Desember, naik 8 peringkat dari posisi pada bulan sebelumnya 135 dan menjadi yang kedua di level Asia Tenggara di bawah Thailand dengan peringkat 121. Suatu prestasi sensasional, karena dengan prestasi ini mampu membuat masyarakat Indonesia dari lapisan bawah sampai elit merayakan kemenangan dan menanggalkan perbedaan yang berujung konflik, demi kemajuan timnas Indonesia, mengangkat martabat Bangsa.
Hal menarik dari prestasi yang telah dicapai sampai saat ini adalah komentar beberapa pemain klub-klub besar eropa baik di situs jejaring sosial twitter, di media-media cetak maupun elektronik yang memberikan selamat atas kemenangan timnas. Ryan Babel, pemain bintang Liverpool mengucapkan : “congrats to Indonesia reaching the final”, Cesch Fabregas gelandang Arsenal, dan juga Rio Ferdinan, bek tangguh Timnasional Inggris mengucapkan selamat atas kemenangan yang diraih timnas Indonesia (Pikiran Rakyat, 20/11/2010).
Kualitas permainan, Euforia supporter, Manajemen yang semakin baik, serta penilaian bintang sepakbola dunia, saya fikir menjadi pra-syarat yang penting untuk timnas Indonesia layak masuk ke level tertinggi sepakbola dunia “WORLD CUP”. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan keadaan, timnas kita memang layak untuk merebut posisi tersebut.
Siapa yang menyangka kalau timnas Korea Utara yang menjadi peserta Piala Dunia kemarin mampu menembus prestasi yang patut diacungkan jempol (setelah sempat tampil di Piala Dunia 1966), tengok 3-5 tahun kebelakang, siapa yang melihat Korea Utara, prestasi apa yang mereka buat?. Negara yang telah lama terlibat perang saudara dengan tetangga serumpunnya, Korea Selatan, mampu menjawab cibiran dunia dengan prestasi menembus putaran final piala Dunia –meskipun tidak lolos babak penyisihan-. Dan saat itu beberapa komentartor sepak bola menggadang kalau korut menjadi kuda hitam di group yang dihuni langganan juara Brazil.
Berkaca pada keberhasilan korut, tentunya tidak ada alasan kalau kita juga mampu meraih prestasi yang sama dengan korut bahkan lebih, hal tersebut dapat diraih apabila kita serius untuk melakukan pembenahan disemua sektor yang saya sebutkan di atas.
Walaupun harus kita akui, masih jauh perjalanan menuju kelas Dunia. Tentunya harus melalui putaran Piala Asia dan harus mampu menembus Putaran babak kualifikasi Piala Dunia. Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kemauan dan semangat itu ada. Rasa optimislah yang harus di pupuk sedini mungkin, agar mental dan karakter sebagai tim tangguh menjadi milik timnas Indonesia.
Semoga berawal dari satu factor, akan menjadi solusi persoalan bagi factor-factor lain, yang menjadi persoalan bangsa ini. Artinya, berawal dari prestasi sepak bola timnas, menjadi pelecut dari memuncaknya nasionalisme seluruh warga Indonesia, untuk menyatakan dan menginternalisasi kalimat : “bertanah air satu, berbahasa satu, dan berbangsa satu; INDONESIA”, dan itu sudah kita buktikan.
Terbang Garudaku, Forza Timnas Indonesia.