Oleh : Khaerul Umam*

kursi Pemilukada Kab. Bandung tinggal beberapa minggu lagi , saatnya kita menentukan pemimpin dearah  untuk lima tahun kedepan. Salah memilih berarti kegagalan untuk membangun Kab. Bandung lima tahun ke depan atau bahkan untuk ukuran waktu yang lebih lama lagi. Delapan pasangan cabup dan cawabup sudah menghiasi sudut-sudut pelosok Kabupaten meramaikan media-media, baik cetak maupun elektronik lokal dengan slogan-slogan dan jani-janjinya yang ditawarkan kepada seluruh Masyarakat Kab. Bandung yang akan dipimpinnya.
Berbicara soal pilih memilih, saya teringat akan sebuah tradisi sakral dari setiap individu manusia, yakni sebuah pernikahan. Di mana si peminang dengan yang dipinang terlebih dahulu harus melalui proses yang cukup panjang dan penuh dengan pertimbangan, gagal menilai, akan berakibat pada kekurang harmonisan dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Rakyat dalam hal ini adalah suatu entitas yang akan meminang, sedangkan pasangan Cabup dan Cawabup dalam hal ini adalah yang dipinang oleh rakyat. Biasanya si peminang akan menggali lebih dalam tentang seseorang yang akan dipinangnya dari orang lain yang dekat dengannya, entah itu saudaranya atau teman dekatnya. Begitupun dalam memilih atau meminang Cabup/Cawabup, tentunya harus menggali lebih dulu dari mulai A sampai Z tentang dia dari orang yang lebih tau atau orang terdekatnya.
Namun dalam dunia politik segala hal yang sesungguhnya tidak baik tidak akan terungkap apabila itu tidak menguntungkan bagi kelompoknya, sehingga yang terjadi adalah suatu penilaian yang sangat subyektif dari pendukung calon tersebut mengenai hal-hal yang baik saja, bahkan cenderung mengada-ada. Namun masyarakat sebagai pemilih dapat pula melihat secara transparan dari pasangan yang akan dipilihnya melalui media-media tertentu yang memang independent dan dapat dipercaya baik melalui media cetak maupun elektronik yang mengupas sisi kehidupan seorang calon.
Menengok tradisi masyarakat kita yang tersarikan dari ajaran agama, dimana dalam memilih seroang pendamping hidup itu harus melalui bebrapa pertimbangan dan memenuhi beberapa syarat yang selanjutnya menjadi sebuah proses seleksi bagi si pemilih (peminang). Pra syarat-pra syarat yang dijadikan pertimbangan pun begitu ketat.
Pertama, dalam memilih seorang yang akan diadikan pendamping hidup itu ialah ketampanannya (bagi pria) atau kecantikannya (bagi wanita). Mempertimbangkan kecantikan atau ketampanan merupakan suatu usaha dari si pemilih agar pasangan yang memang akn menjadi pendamping hidupnya merupkan pilihan terbaik dan terindah di antara pilihan yang ada, karena menyukai keindahan merupakan fitrah yang dimiliki oleh manusia, selanjutnya dari keindahan itu tentunya menjadi sebuah bagian yang dapat membahagiakan pasangannya.
Dalam kontek memilih calon pemimpin pun hendaknya memperhatikan kecakapan serta kewibawaan dia dalam bersikap dan berperilaku, pemimpin yang secara dhohir terlihat berwibawa akan membuat kepercyaan diri dari rakyatnya sebagai entitas yang dipimpinnya, begitupun ketika bangsa lain melihat kewibawaan dari seorang presiden tentunya ia akan menyimpan rasa tersendiri dalam berinteraksi maupun membuat kontrak-kontrak perjanjian yang menyangkut kenegaraan.
Pra syarat yang kedua adalah seseorang yang akan memilih seorang pasangan hidupnya adalah mampertimbangkan hartanya, dalam konteks ini harta yang dimaksudkan adalah harta fisik maupun non fisik, harta fisik bisa merujuk kepada harta yang dapat dibelanjakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, sementara harta non fisik adalah kemampuan seseorang dalam menjaga etos kerja atau semangat berusaha dalam mamperoleh sesuatu yang menjadi tanggungannya.
Sejalan dengan pra syarat kedua di atas apabila dikaitkan dengan seorang calon pemimpin bangsa, dalam memilih rakyat harus jeli dan mampu menangkap sisi-sisi emosionalitas dari calon yang akan dipilihnya dalam konteks kinerja kenegaraan, kestabilan dalam menghadapi masalah serta konsistensi dalam sikap untuk mensejahterakan rakyatnya adalah contoh dari “harta” semangat yang wajib dipenuhi oleh seorang pemimpin. Semangat, konsistensi serta etos kerja yang dimiliki harus dicermati secara detail dari track record seorang calon dalam menjalankan karir politik yang selama ini sudah ia jalani.
Hal ini berkaitan dengan menjaga kepercayaan rakyat akan janji-janji yang sudah pernah diucapkan dalam kampanye-kampanye nya. Kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan harus selalu menjadi pertimbangan tersendiri selain juga melihat konsistensi dalam berbuat dan memutuskan suatu kebijakan,.
Ketiga, yang menjadi prasayarat dalam memilih pasangan hidup adalah keturunannya. Peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” adalah mengindikasikan bahwa faktor keluarga dan lingkungan keluarga akan membentuk sebuah karakter seseorang dalam bertindak dan bersikap. Keluarga yang baik, serta lingkungan yang baik secara cenderung akan membuat perilaku seseorang baik pula. Baik dalam hal ini adalah baik secara moral, etika serta tidak bertentangan dengan adat istiadat dimana ia tinggal, dan agama yang menjadi landasan hidupnya. Niscaya kebaikan ini akan berefek kepada keharmonisan keluarga serta didikan untuk keturunannya di kemudian hari kelak.
Dalam memilih seorang pemimpin daerah pun jangan sekali-kali kita melewatkan pertimbangan ini, melihat seseorang dari sisi keturunannya, siapa yang melahirkannya, bagaimana ia dididik, dimana ia menghabiskan banyak waktu yang dimilikinya, akan memudahkan kita untuk menilai sejauh mana ia mampu dan konsisten untuk memikirkan kepentingan rakyatnya, apakah lebih banyak untuk kepentingan pribadi atau untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial yang dapat memberi mashlahat untuk orang banyak.
Pertimbangan keempat dalam memilih seorang pasangan hidup, dalam tradisi adat atau tradisi masyarakat kita adalah faktor agama. Agama dimaknai tidak hanya mengajarkan bagaimana orang hidup dan berinteraksi dengan orang lain tetapi juga mengajarkan nilai-nilai universal yang akan menjadikan pemeluknya hidup secara bermakna penuh dengan hakikat hidup dan menyadari dengan sepenuhnya tentang apa arti hidup serta bagaimana harus menjalani kehidupan. Sehingga persoalan-persoalan apapun yang akan menjadi badai penerjang bahtera sebuah rumah tangga akan mudah diantisipasi dan diselesaikan dengan bijaksana.
Bagi masyarakat timur –paradoksi dari masyarakat barat yang cenderung sekuler– agama menjadi jalan hidup (the way of life) serta petunjuk dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, posisi agama sangat sentral dan mempunyai daya otoritas tersendiri yang dapat menggerakan segala potensi yang dimiliki oleh seseorang. Vitalitas dari posisi agama ini hendaknya juga harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang kita pilih untuk kita pinang sebagai pendamping hidup dalam menjalankan prosesi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga masalah-masalah yang menimpa bangsa ini akan segera teratasi dan masyarakat mendapat kesejahteraan dari kebijakan yang dibuaat sesuai dengan cita-cita yang telah disepakati bersama oleh para Funding father kita untuk menuju bangsa yang berwibawa, madiri dan sejahtra.
Keempat prasyarat yang telah dipaparkan di atas tentunya harus melalui analisa yang tajam terhadap ketiga pasang cabup dan cawabup yang akan bertanding pada tanggal 29 Agustus 2010 mendatang. Tentunya ini adalah tugas kita bersama untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pertimbangan dalam sebuah pilihan. Salah memilih berarti kegagalan untuk membangun Kabupaten Bandung yang lebih baik.
Selamat memilih.

* Khaerul Umam (Ketua PMII Cabang Kabupaten Bandung Masa Khidmat 2009-2010)