Oleh: Khaerul Umam*

Sering kita memaknai beribadah puasa hanyalah semata-mata karena adanya perintah agama. Hal itu menjadikan kita terjebak pada hal-hal formalisme ajaran yang akibatnya menyampingkan nilai-nilai ideal universal yang ada dalam ajaran puasa tersebut. Perintah atau ajaran puasa di satu sisi memiliki power untuk dilaksanakan oleh penerima perintah, namun di sisi lain, suatu perintah jika dilakukan tanpa melalui penghayatan terhadap nilai dari suatu perintah tersebut maka yang terjadi adalah semacam ritualisme kosong tanpa makna, dan hal ini sangat disayangkan dalam konteks pengaplikasian suatu ajaran agama.
Akbitanya, sering kita melihat saudara kita atau bahkan kita sendiri melaksanakan puasa dengan menahan diri untuk tidak makan dan minum dari subuh sampai shalat magrib, tapi disisi lain masih melakukan hal-hal yang justru mengurangi nilai ibadah puasa tersebut, seperti menggunjing, bergosip, bahkan lebih-lebih melakukan tindakan diluar batas rasa kemanusiaan seperti korupsi.
Dan satu hal yang sering kita lihat setiap menjelang bulan puasa, kita disuguhkan dengan tayangan yang kontra produktif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan mengatasnamakan agama dan dengan alasan menghormati kesucian bulan puasa, mereka merusak beberapa fasilitas umum, bahkan mencaderai orang lain yang dianggap “tidak menghormati” orang yang sedang menjalankan ibadah berpuasa –padahal hakikatnya berpuasa adalah melatih kita untuk sabar dan jauh dari rasa ingin dihormati orang–. Akibatnya hal tersebut memunculkan penilaian dan kesan yang negatif terhadap Islam sebagai suatu institusi. Dan hal itu justru sangat jauh dari tujuan mulia ajaran puasa yang seharusnya mengekang nafsu dan amarah.
Mengambil dan memperoleh nilai dari ibadah puasa merupakan suatu usaha yang mesti dilakukan oleh ummat Islam, karena hal ini akan menjadikan suatu kondisi dimana kita akan mudah memaknai substansi dari ajaran puasa tersebut, karena puasa merupakan salah satu ajaran yang memperlihatkan adanya kesamaan nilai dalam keragaman budaya yang ada di dalam peradaban dunia saat ini. Ia merupakan ajaran agama yang diwariskan dari agama-agama sebelumnya.
Sebagaimana tercatat dalam sejarah Islam, bahwa sebelum kedatangan Nabi Muhammad, umat Nabi yang lain diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Alquran pun telah banyak menceritakan puasa-puasa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, misalnya nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat puluh hari. Surat Maryam menyampaikan bahwa Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan puasa.
Ada juga istilah Puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka pada tiap tahunnya yang yang dicontohkan oleh Nabi Daud. Nabi Muhammad SAW Sendiri sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain. Malah masyarakat Yahudi yang tinggal di Madinah pada masa itu turut mengamalkan puasa Asyura.
Istilah puasa memang tidak dikenal dalam Budha, namun, konsep puasa mirip dengan konsep pencapaian kebahagiaan sejati dalam agama budha. Dalam agama budha, untuk menggapai kebahagiaan, harus menghancurkan penderitaan. Penderitaan kadang terjadi akibat adanya keinginan yang tidak tercapai. Di sinilah diperlukan pengendalian diri untuk menolak sesuatu secara berlebihan, dan konsep pengendalian diri inilah yang mirip puasa. Dalam pengendalian diri tersebut, ada beberapa prinsip hidup yang harus dilalui untuk menang. Yakni, konsep menjauhkan diri dari kemewahan, seperti, tidak boleh menonton acara hiburan, tidak boleh tidur di tempat mewah, tidak boleh berhias, dan tidak boleh menerima pemberian berupa emas dan sebagainya. Proses untuk menjadi Bikhu (pemimpin tertinggi dalam ajaran Budha), ada 127 aturan yang harus ditaati. Termasuk, tidak boleh menyentuh wanita. Itu makanya, Bikhu tidak kawin, pasalnya, mereka menganggap, hubungan seksual sangat besar potensinya untuk mengotori pikiran.
Konsep puasa memiliki inti yang sama dengan konsep nyepi dalam agama Hindu. Konsep Nyepi, yaitu mengendalikan diri dari kehidupan duniawi. Dalam Nyepi, para penganut Hindu juga tidak makan, minum, serta melakukan aktivitas duniawi. Gede juga menambahkan, dalam konsep Hindu, ada beberapa fase dalam hidup manusia. Yakni, menuntut ilmu, melakukan aktivitas reproduksi, serta persiapan menjadi Pujangga atau Bikhu.
Prinsip pengendalian diri dalam agama Kristen katolik juga sama dengan puasa. Hampir sama dengan ajaran Budha, seorang Romo atau Pastor, juga dilarang untuk menikah. Keputusan tersebut berdasarkan perjanjian lama, di mana ada beberapa nabi yang tidak pernah menikah. “Mereka yang sudah mengambil keputusan untuk mengabdi pada kerajaan Allah, diwajibkan untuk tidak menikah seumur hidup,” ujar Petrus.
Puasa dalam konsep Islam intinya mengendalikan diri dari aktivitas makan-minum dan seksual. Pengendalian ini terutama terhadap bagian atas perut (hati), perut dan bawah perut (alat kelamin), sebab ketiganya sangat potensial merusak. Untuk itu, kita menyucikan diri dengan puasa. Arahnya, bagaimana menjadi kaum Muttaqin dengan menahan potensi jelek yang bisa muncul dari manusia.
Orang Yunani mengenal puasa dari orang Mesir purba. Mereka berpuasa sebelum mereka pergi berperang. Orang Roma yang mengikuti jejak langkah orang Yunani juga berpuasa, terutama apabila diserang oleh musuh dengan tujuan untuk memperoleh kemenangan. Mereka percaya amalan puasa akan menguatkan mereka dan mengajarkan mereka tentang kesabaran dan ketahanan, dua hal diperlukan untuk kejayaan dalam perjuangan melawan nafsu batin maupun musuh yang lahir.
Puasa bagi mereka yang menempuh kesengsaraan juga dilakukan oleh orang Cina purba. Kepercayaan Hellensitik purba, yakin bahwa Tuhan-tuhan mereka menyampaikan wahyu dalam mimpi setelah berpuasa dengan penuh ikhlas. Golongan Shaman (orang alim yang dikatakan mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan penyakit dan berhubung secara fisik), di kalangan orang Evenk atau dulu dipanggil Tungus dari Siberia, lazimnya menerima pandangan masa depan bukan dengan sesuatu ikhtiar tetapi setelah jatuh sakit yang tidak dapat diterangkan. Namun, selepas pandangan awal itu mereka berpuasa dan melatih diri untuk melihat pandangan yang selanjutnya dan untuk mengawal roh.
Walaupun puasa secara formal tidak dititikberatkan dalam Perjanjian Baru (New Testament) daripada kitab Bible (bukan Injil). Ia akhirnya menjadi amalan suci penghuni padang pasir dan biarawan lelaki dan perempuan yang melihatnya sebagai suatu langkah penting untuk membebaskan jiwa dari keinginan dan ikatan duniawi. Namun, secara berangsur-angsur lahirlah amalan puasa yang bermusim dalam tradisi agama Kristian, seperti waktu Lent, yaitu 40 hari sebelum Easter untuk insaf. Hari-hari Rogation semasa musim bunga untuk mendapatkan hasil tanaman yang baik. Hari-hari Ember, yaitu masa untuk sembahyang dan puasa dalam setiap musim setahun. Terdapat juga puasa mingguan pada hari Rabu dan Jum’at, dan puasa sebelum merayakan upacara penting dalam kehidupan seseorang seperti pembaptisan, upacara pentahbisan (untuk menjadi paderi), kemasukan dalam golongan kesatria (knighthood), dan sambutan Eucharist. Karena perkembangan yang pesat dalam pergerakan suci pada abad pertama dan kedua, amalan puasa menjadi suatu cara penting untuk menanggalkan badan dari ikatan amalan kebendaan dan kesenangan, lalu menjadikan individu mencapai derajat tinggi yang baik dan mendekatkan dengan roh suci. Namun, para biarawan diberi peringatan supaya menjauhkan berpuasa dengan melampau yang dapat menyakiti badan dan roh.
Selain mengamalkan puasa 40 hari dalam waktu Lent, mazhab Katholik Roma dan Ortodoks Timur berpuasa semasa Advent, yaitu suatu jangka masa untuk bertaubat sebelum Natal. Di kalangan Katholik Roma amalan itu telah diubah sejak Kaunsel Vatican yang kedua (1962-65) untuk mengizinkan individu membuat pilihan yang lebih luas, dengan berpuasa wajib hanya pada hari Ash Wednesday dan Good Friday semasa Lent. Gereja Ortodoks Yunani pula telah menghapuskan puasa yang tegar sementara gereja-gereja Protestan umumnya memberi pilihan kepada ahli masing-masing untuk membuat keputusan sendiri mengenai amalan puasa.
Sami Buddha dari mazhab Theravada berpuasa pada hari-hari suci (uposatha) pada setiap bulan. Sementara dalam agama orang Cina klasik, puasa diamalkan sebelum masa mereka berkorban. Walaupun Buddha mengajar kesederhanaan dalam puasa, ramai sami Buddha lelaki dan perempuan berpegang teguh kepada adat makan hanya sekali sehari, dan mereka dikehendaki berpuasa pada hari bulan baru atau bulan penuh. Di kalangan penganut Buddha hari ini adalah lazim bagi mereka berpuasa dan membuat pengakuan atas dosa yang dilakukan sebanyak empat kali sebulan. Mereka percaya puasa adalah satu daripada 13 amalan yang membawa kepada kehidupan yang gembira di samping menjadi alat untuk menyucikan diri.
Dalam kepercayaan orang Yahudi, puasa adalah suatu jangka masa apabila seseorang menahan diri daripada makan dan tidur. Lazimnya ia bersangkutan dengan perbuatan menahan diri yang lain. Contoh dalam Bible termasuk Daniel yang tidak berurap (Daniel 10:3), dan keengganan (Nabi) Daud untuk menukar pakaian dan mandi semasa dia berpuasa (II Samuel 12:16-20).
Para rabai menyatakan bahwa puasa adalah jawaban kepada keperluan rohaniah dan membayangkan, dalam arti kata yang seluasnya, ia adalah suatu bentuk “penyiksaan kepada roh.” Maka puasa tertinggi pada Hari Penebusan (Yom Kippur) mengandung segala bentuk larangan di samping menjadi hari untuk sembahyang, insaf dan menahan diri.
Di samping peranannya dalam agama, dimana digunakan manusia untuk melahirkan suatu pandangan terutamanya dalam protes atau perpaduan. Mahatma Gandhi telah menggunakan pendekatan ini dengan berpuasa dalam penjara untuk menebus kekerasan yang dilakukan oleh pengikutnya yang tidak mengamalkan ajaran ahimsa (tanpa kekerasan) menentang Inggris di India. Dia kemudian selalu berpuasa untuk tujuan sosial dan politik yang lain.
Puasa juga dapat berefek pada suatu keyakinan untuk selalu membela kaum-kaum yang lemah yang terdlolimi. Dick Gregory, seorang pelawak kulit hitam di Amerika tahun 60an, berpuasa yang bukan sahaja memprotes terhadap kehadiran askar Amerika di Asia Tenggara tetapi juga terhadap pencabulan hak asasi kaum kulit hitam di Amerika.
Pada tahun 1981, 10 orang nasionalis mati di penjara Belfast semasa aksi mogok makan yang dilancarkan, termasuk Bobby Sands, ketua mereka, yang meninggal dunia setelah 66 hari “berpuasa”. Mereka mendesak supaya mereka diterima sebagai tahanan politik bukan sebagai pemberontak.
Banyak tokoh sejarah dan sains juga berpuasa. Socrates dan Plato berpuasa selama 10 hari untuk kesehatan mental dan fisik. Pythagoras berpuasa selama 40 hari sebelum menduduki peperiksaan di Universiti Alexandria. Aristoteles, Galen, Paracelsus, dan Hippocrates turut berpuasa. Lama sebelum itu, Siddhartha Gautama atau Buddha telah mengamalkannya juga.
Puasa telah menjadi bagian dari budaya masyarakat sebelum Tuhan menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad. Pengakuan ini paling tidak menunjukkan dua hal. Pertama, legitimasi teologis (tekstual). Yaitu bahwa puasa merupakan ajaran Tuhan yang diturunkan untuk peningkatan kualitas diri. Kedua, legitimasi budaya (kontekstual), yaitu bahwa puasa merupakan nilai luhur yang sudah membudaya dalam masyarakat sebelum Islam yang perlu terus dilestarikan. Adanya legitimasi teologis dan budaya akan menyebabkan puasa berdampak pada wilayah sosial sekaligus spiritual. Dua sisi yang sering dipahami secara dikotomis dan tersegmentasi oleh sebagian umat Islam.
Puasa sebagai tradisi agama-agama yang memiliki makna universal harus dijadikan energi positif bagi menguatnya pemahaman multikultural yang disemangati oleh nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan kemanusiaan (insaniyah). Transformasi spiritual dan semangat multikultural yang dicapai lewat puasa idealnya bisa dinikmati dan dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa terjebak oleh sekat-sekat budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun teologis, apalagi politis.
Dalam konteks pelaksanaan ibadah puasa ini, maka refleksi-esoteris dan kesadaran-eksoteris harus tumbuh sebagai manifestasi dari proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan. Inilah sebuah proses yang oleh filosof Kierkegaard (1813-1855) disebut sebagai proses dari aesthetic stage menuju religious stage. Maksudnya, puasa bukan sekadar firman (perintah) yang bersifat personal, tetapi juga amal (aktualisasi) yang bersifat sosial.
(refferensi dari berbagai sumber)

* Ketua Cabang PMII Kabupaten Bandung Masa Khidmat 2009-2010.