SEKELIMUS, (GM).-
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kab. Bandung, segera melakukan kajian terhadap fenomena keberagamaan mutakhir, yang dianggap melakukan penodaan dan reduksi terhadap ajaran agama. Upaya penanganan terhadap berbagai ajaran dan aliran yang dianggap sesat, seyogianya mengedepankan cara-cara dialog.

Dalam siaran pers PMII yang diterima “GM”, Sabtu (10/11), menyebutkan, penanganan berbagai aliran dan ajaran yang dianggap sesat tidak harus dengan cara tindak kekerasan. “Seharusnya mengedepankan cara-cara dialog dan persuasif, bukan sebaliknya dengan tindak kekerasan,” kata Ketua Umum PMII, Edi Rusyandi.

PMII juga menyikapi maraknya aliran dan ajaran yang dianggap sesat, harus menjadi bahan introspeksi dan koreksi bagi setiap institusi agama dan kaum agamawan.

“Dalam menyampaikan pesan nilai-nilai agama selama ini kepada umatnya di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat, aliran dan ajaran yang dianggap sesat harus menjadi bahan koreksi,” ujar Edi.

Untuk mencegah ketegangan dan konflik di masyarakat yang dipicu oleh isu agama, lanjut Edi, harus juga dikedepankan dialog antara elemen-elemen agama baik intra maupun lintas agama.

Selain itu PMII juga menilai, bahwa Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) sebagai representasi pemerintah, tak berwenang untuk memutuskan sesat atau menyimpangnya sebuah ajaran atau agama sebagai wilayah privasi masyarakat.

“Pakem berkewajiban untuk melindungi seluruh masyarakat dan meregulasi, agar setiap munculnya perbedaan tidak lantas menimbulkan ketegangan-ketegangan dan konflik di masyarakat,” kata Edi.

Selain itu, Pakem pun harus melakukan tindakan terhadap kelompok masyarakat yang selama ini suka melakukan cara-cara kekerasan, dalam menyikapi munculnya aliran sesat. “Apa yang dilakukan itu sama sebagai bentuk penodaan agama,” tegasnya. (B.89)**

sumber : Galamedia 12 nov 2007