Jum’at, 10 Agustus 2007 04:09:39

[CyberPMII, Jakarta] TOkoh Poyangga Umat

Tak hanya warga NU yang menangisi wafatnya KH Abdullah Abbas. Kalangan , seluruh elemen bangsa ini juga merasa kehilangan atas wafatnya KH Abdullah Abbas. Ki Dullah, panggilan Abdullah, adalah salah satu kiai khos yang menjadi rujukan umat Islam di Tanah Air.

Situs resmi Ponpes Buntet, buntetpesantren.com, menyatakan, banyak orang yang menyebutnya sebagai “penyangga masyarakat. Dia juga dikenal sebagai Kiai yang mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu.

Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fikih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fikih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fikih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dengan sikapnya itu maka nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seorang ulama yang alim dan berpemikiran progresif.Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero pulau jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan.

Di ruang terbuka inilah kiai Abbas menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Dhuhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Panggung Politik

Di panggung politik, Ki Dullah turut menentukan. Pada 29 September 1999 misalnya, berkumpulah para tokoh nasional di rumahnya. Mereka adalah Amien Rais, Fuad Bawazir, Gus Dur, Alwi Shihab dan sejumlah kiai NU lainnya. Pertemuan itu untuk membicarakan pencalonan Gus Dur sebagai presiden.

Saat itu Amien Rais dari Poros Tengah dapat meyakinkan beberapa kiai NU bahwa dirinya akan sungguh-sungguh dalam mendukung Gus Dur sebagai calon presiden. Namun beda dengan Ki Dullah yang mempunyai penilaian lain. Ki Dullah justru meragukan ketulusan Amin Rais. Keraguan tersebut diucapkan langsung di hadapan Amien Rais. Tapi Amin Rais dapat pula meyakinkan kiai sepuh itu.

“Maka ketika dugaan Kiai Abdullah Abbas terjadi, yaitu Gus Dur ‘didongkel’ di tengah jalan oleh Poros Tengah, Kiai Abdullah Abbas, yang paling lantang bersuara,” demikian biografi Ki Dollah yang tertulis dalam situs resmi ponpes Buntet.

Sehari setelah Gus Dur ‘digulingkan’, di rumah Kiai Abdullah Abbas diadakan pertemuan kiai khos. Dalam jumpa persnya, Kiai Abdullah Abbas mengatakan presiden bukanlah persoalan main-main. Memilih presiden berarti menentukan corak dan watak negara. Jadi memilih presiden harus dengan dukungan yang tulus dan ikhlas dalam membangun bangsa.

Kepentingan bangsa ini sangat diprioritaskan oleh Ki Dullah. Maklum, Ki Dullah turut mengangkat senjata ketika perang melawan penjajahan Belanda puluhan tahun silam. Ki Dullah melawan Belanda di Sidoarjo bersama Mayjen Sungkono. Ki Dullah aktif menjadi pasukan Hisbullah, bahkan menjadi Kepala Staf Batalyon Hisbullah. Ki Dullah juga menjadi anggota Batalyon 315/Resimen I/Teritorial Siliwangi dengan pangkat Letnan Muda.

Ki Dullah adalah anak pertama Kiai Abbas, ulama Cirebon yang dihormati. Ki Dullah lahir di Buntet pada 7 Maret 1922. Sepeningal sang ayah, Ki Dullah membesarkan pesantren Buntet.

Sebagaimana sang ayah, Ki Dullah juga dihormati masyarakat luas karena tidak membeda-bedakan manusia baik dari segi ras, agama maupun keturunan. Maka wajar bila rumah Kiai Dullah sering kedatangan tamu, baik pejabat seperti presiden, gubernur, bupati, bintang film dan rakyat kecil.(AM Hasan/dari berbagai sumber)