Jum’at, 10 Agustus 2007 06:18:33

[CyberPMII, Jakarta] Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kini sedang dalam bahaya. Pasalnya, berbagai ancaman kini tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Jika hal itu dibiarkan, tidak menutup kemungkinan bangsa Indonesia yang besar ini bisa tinggal kenangan.

Demikian kesimpulan Dialog Kebangsaan dengan tema ”NKRI Under Attack, Menemukan Formula Peneguhan Kedaulatan Indonesia” yang diselenggarakan Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) di Gedung Juang 45, Jl. Menteng Raya, Jakarta, belum lama ini.

Hadir dalam dialog tersebut Sekjen Dewan Pertahanan Nasional (Wantanas) Letnan Jenderal Muhammad Yasin, Ketua Umum Partai Matahari Bangsa Imam Addaruqutni, dan Edy Setiawan. Selain itu, hadir pula pimpinan dan aktivis organisasi yang tergabung dalam FKPI, antara lain PMII, IPNU, IMM, GMNI, GMKI, KMHDI dan Hikmabudhi.

Dalam paparanya, M Yasin mengatakan, Indonesia saat ini sedang berada dalam ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri. Karena itu, segala hal yang mengancam keutuhan NKRI harus diantisipasi sejak dini.”Indonesia kini memang dalam ancaman. Ancaman itu tidak harus berupa fisik,” ungkap jenderal yang mengaku pernah nyantri di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon itu.

Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia, katanya, adalah sebuah potensi besar, jika hal itu dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, keragaman itu bisa menjadi petaka tersendiri bagi bangsa Indonesia.”Jadi keragaman itu adalah potensi bagi bangsa Indonesia,” tuturnya.

Isu formalisasi syariat Islam yang diusung oleh sejumlah kelompok juga tidak luput dari sorotannya. Menurutnya, penerapan syariat Islam sebagai bentuk negara tidak bisa diterapkan di Indonesia.”Pertanyaannya, mau gak Bali kalau diterapkan Syariat Islam. Terus NTB yang mayoritas Kristen mau atau tidak. Saya jawab sendiri, pasti tidak mau,” tuturnya.

Sementara itu, Imam Addaruqutni mengatakan, tema diskusi NKRI under attack tersebut tidak bisa dianggap main-main. Pasalnya, bangsa Indonesia kini benar-benar sedang terancam pecah.”Tema NKRI under attack ini tidak hanya tulisan, tapi harus menjadi perhatian serius,” ungkapnya.

Perjanjian kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) antara RI dan Singapura, katanya, malah mengancam NKRI. Selain itu, perjanjian yang hingga kini masih menjadi perdebatan di dalam negeri itu juga sangat merugikan Indonesia jika dilihat dari berbagai sisi.”Dengan perjanjian itu, Singapura bebas berada di atas wilayah Indonesia,” katanya.

Juru bicara FKPI Idy Muzayyad mengatakan, ancaman terhadap NKRI kini datang dari segala penjuru. Karena itu, semua pihak harus mewaspadai ancaman tersebut, jika tidak ingin di masa mendatang bangsa Indonesia tinggal kenangan.”Nah, melalui forum ini kami melakukan refleksi terhadap kesatuan dan persatuan Indonesia, serta mencari formula untuk meneguhkan NKRI,” ungkap Idy yang juga Ketua Umum PP IPNU itu.

Ditempat terpisah, Ketua PMII Hery Haryanto Azumi mengingkatkan kelompok Islam yang mendesak formaslisasi Islam di Indonesia, agar tidak meneruskan cita-cita tersebut. Jika hal tersebut terus dipaksakan, katanya, NKRI pasti pecah. Karena itu, dia meminta mereka untuk lebih mengutamakan integrasi bangsa.

”Pada akhirnya mereka harus memilih antara integrasi bangsa atau formalisasi syariat Islam. Syariat Islam secara kultural telah menjadi nilai etis bagi bangsa Indonesia. Dari nilai etis inilah, perlu disusun produk legislasi yang tidak harus menggunakan istilah penerapan syariat Islam,” katanya.

Sumber : Cyber PB PMII