Oleh : Iir Abdul Haris*

Pengantar

Dalam perkembangan dan gerakan pemikiran Islam, mencari otenstisitas kebenaran Islam telah sangat panjang dicari dalam dua tradisi besar Islam dengan ragam variannya: Sunni dan syi’ah. Keduanya hampir mufakat mencari akar otentisitas pada bagaimana Nabi dan generasi di masa awal memahami wahyu dalam ruang sejarah mereka, tetapi berujung pada interpretasi otentisitas yang nyaris buntu untuk dipertemukan.1

Kebutuhan akan otentisitas tersebut semakin mendesak seturut tantangan atas peran agama yang lebih progresif dalam menciptakan tatanan dunia yang adil dan penuh perdamaian dalam mobilitas ideology dan sosial yang tinggi. Terdapat anggapan cukup luas bahwa ‘agama’ dalam banyak kasus justru banyak memberikan banyak sumbangan berarti pada munculny kekerasan, dukungan pada kekuasaan yang tiran, diskriminatif, dan menyimpan muatan tunda sektarianistik.

Dalam makalah singkat ini, dengan arah kemufakatan yang sama dalam tradisi besar islam-muddah-mudahan tidak nyaris buntu untuk dipertemukan- Penulis akan membedah secara singkat beberapa dimensi penting dalam watak liberalitas ajaran Islam.

Konteks Pembebasan Dalam Kerasulan Muhammad

                Theologi Pembebasan’ merupakan istilah kontemporer yang melapisi suatu pemikiran, refleksi, dan gerakan keagamaan pada penghujugn abad XX yang berupaya mencarai otentisitas agama pada ranah praktis dalam mewujudkan ‘keadilan yang komprehensif, refleksi theologis yang muncul darinya, dan pembentukan ulang praksis berdasarkan refleksi tersebut”. Pada mulanya term ini banyak diperkenalkan oleh tokoh-tokoh gerakan keagamaan dalam naungan gerakan gereja di Amerika latin dalam menentang refresifitas politik dan hegemonik tiran rezim-rezim berkuasa.2

                Dalam perkembangan mutakhir, istilah ini menjadi suatu mainstream baru dalam wacana keagamaan yang digendong dalam suatu artikulasi ulang atas theology keagamaan yang formatif-skolastik yang cenderung minim dengan nilai-nilai praxis. Theology pembebasan ini diandaikan tampil pada sosok individu maupun kolektif tokoh-tokoh keagamaan yang menempatkan agama sebagai basis bagi legitimasi dan identitas perjuangan bagi keadilan dengan mengemaskulasi symbol-simbol artificial-fakultatif.

                Pandangan ini muncul, dalam kepercayaan penulis, sebagai respon atas pelapisan dan penyelimutan bertahap atas makna substansial essensial agama-agama dunia dalam perjalanan panjang sejarah yang memintal agama pada pelembagaan-pelembagaan artifisial dan simbolik-ritualis. Bahkan dalam tahap paling kritis, terjadi penunggalan antara agama dan pemikiran agama sehingga mengkritisi penafsiran agama menjadi tugas sulit dan penuh resiko karena akan dianggap sebagai mengganggu agama itu sendiri.

                Keyakinan penulis, memahami kerasulan Muhammad dalam pelapisan theologi pembebasan di atas dapat dicari maknanya sebagai perpanjangan kehendak Tuhan yang aktif dalam sejarah melalui peraturan-Nya dalam kitab suci. Makna ini dapat dicari dalam ruang terbuka teks yang penuh tenggara-tenggara duniawi, historia dan karya lakon-lakon dari model kenabian Pra – Muhammad. Makna-makna ini dibuka dalam peran-peran responsifnya atas wahyu dalam sejarah pewahyuan Mekkah dan medinah yang fenomenal dalam sejarah. Akan penulis tawarkan pendekatan berikut ini:

Periode Mekkah: Seruan Moralis Nabi Kuno Yang Berwenang

Para Mufassir dan Sejarawan klasik mengkonstatir peran terbuka Nabi di Mekkah. Periode ini ditandai oleh seruan-seruan Al-Qur’an yang lebih bersifat umum dalam objek dan moral spesifik dalam materi. Dalam bukti-bukti:

1.        Kata ‘manusia’ (an-nas dan bani adam) banyak digunakan dalam pembuka seruan bahwa objek seruan terbuka bagi segenap lapisan masyarakat di laur jangkauan atribut kelompok kepercayaan;

2.        Kandungan ayat-ayat makki lebih penuh muatan seruan tauhid yang simultan dan menghentak jantung kepercayaan masyarakat arab yang terpecah-pecah, liar, dan keras kepala (Jahiliah).

3.        Isu-isu besar ayat Makki sangat diwarnai oleh seruan kepedulian atas kemiskinan, yatim, dan perbudakan sebagai suatu resfon aktual Al-Qur’an pada sistem sosio-ekonomi Mekkah yang eksploitatatif dan struktur sosial yang berubah cepat dalam model kota perdagangan kuno ‘Arabiah yang dikuasai oleh lapis aristokrat Quraisy.3

4.        Penggalan ayat-ayat Makki merupakan kombinasi huruf yang menghentak, satuan ayat yang pendek-pendek dalam karakteristik seruan tegas seperti terlihat dalam banyak surat juz 30, sangat cocok dengan arah pewahyuan Makki.

Sejarah Nabi-nabi Arabia kuno banyak disebut dalam berbagai surat yang meneguhkan karakteristik dari kontinuitas tradisi monoteistik.4  Ini memperkaya daya cakup terbuka seruan Qur’an antar kelompok beriman di lingkungan Ahl-al-Kitab dan Hanif di satu sisi, serta pengukuh-asasan netralitas seruan bagi kalangan non Ahl- Kitab dan Hanif yang dikenal sebagai kelompok Ummiyin pada struktur tertutup sistem sosio-ekonomi Aristrokrat Quraisy di sisi yang lain.

Hal yang kadang disalah-pahami, seruan monoteistik dianggap sebagai satu-satunya target wahyu Makki, padahal berbarengan dengan seruan tersebut, peran kenabian Pra-Muhammad secara konsisten dituturkan untuk mengukuhkan seruan Rasulullah pada upaya pembebasan masyarakat dari kemiskinan struktural karena keserakahan sistem ataupun pemberdayaan masyarakat marginal (kelompok miskin, yatim, wanita dan budak) yang tersisih akibat struktur sosial yang diskriminatif yang diturunkan dari pandangan ketuhanan yang paganistik (Isyrakiyyah).

Ketauhidan dalam sejarah kenabian memiliki ujung bagi efektifitas pembebasan manusia dari selain penghambaan pada Tuhan.  Nuh,  Musa, Ibrahim, Isa, Yusuf, Daud, Sulaiman, Zakaria dan ribuan Nabi lainnya adalah utusan-utusan Tuhan yang memberikan peringatan, penyadaran, dan sekaligus melakukan gerakan aktif pembebasan. Musuh aktif mereka yang sering dirujuk Qur’an adalah kelompok al-mala’ (aristokrasi). Dalam tahap inilah Nabi memainkan perannya sebagaimana nabi-nabi sebelumnya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di bawah prinsip tauhid.

Sebagai catatan khusus penulis, pada periode ini Rasulullah SAW. Memerankan kenabian lebih didsarkan pada wewenang5 bukan kekuasaan. Sebuah otoritas yang muncul dalam hubungan pribadi tanpa ada kendala fisik atau hukum. Dalam ranah inilah, kerasulan Muhammad di Mekkah menempati peran vital kenabian di luar kerangka struktur politik dan ruang kekuasaan.6  Wahyu Makki di tangan rasul diarahkan pada publik manusia pada ruang yang terbuka dalam arti yang sesungguhnya. Nilai-nilai pembebasan sebagai turunan langsung tauhid pada periode ini benar-benar unik karena turun dari lingkaran pewahyuan yang bebas dari ikhtiar politik-kekuasaan dari ‘negara’.

Mahmoud Thaha mengkonstatir bahwa pesan yang diserukan di Mekkah merupakan tujuan puncak sesungguhnya dari risalah Muhammad, sedangkan pesan madinah tidak lebih sebagai kondisi transisional karena keterbatasan masyarakat dalam menerima pesan-pesan kemanusiaan universal. Pesan yang seungguhnya merupakan identitas dan bahkan jantung dari makna islam sebagai agama kemanusiaan.7

Periode Madinah: Seruan Formatif Nabi Yang Berkuasa.

Periode ini ditandai oleh migrasi (hijrah) Nabi dan para sahabatnya ke Yatsrib pada tahun 622 M akibat penolakan represif yang diikuti teror mengerikan dari para aristokrasi Mekkah atas seruan Rasul. Penduduk Yatsrib (terutama kabilah ‘Aus dan Khajraj) yang terlibat konflik diantara mereka sangat membutuhkan figur yang dapat menjadi penengah diantara mereka.

Setibanya di Yatsrib (kemudian diubah nama menjadi Madinah) Rasul melakukan konsolidasi masyarakat dengan membuat konsensus yang disebut Mitssaq Al-Madinah yang intinya kesepakatan diantara beragam kelompok agamawan dan kabilah untuk hidup bersama dan saling melindungi kebebasan menjalankan hukum dan tradisi masing-masing.

Pada tahap inilah, Rasul menata masyarakat beriman dengan tatanan dan hukum yang diturunkan dari pemahamannya atas wahyu Al-qur’an. Seruan Islam yang ditolak di Mekkah memperoleh tempat yang subur untuk diterapkan dalam masyarkat (ummat) yang merdeka dari intimidasi. Prinsip-prinsip wahyu ditampilkan dalam sunnah (tradisi aktual) yang ditampilkan dalam dan masyarakat Madinah seturut basis nyata sejarah dan kebudayaan yang ada dalam pertahapan yang realistis.  Hukum-hukum masyarakat kota (negara) secara lebih rinci disusun dan dikembangkan di Madinah, dan sebagaimana organisasi masyarakat baru, diperlukan  konsolidasi dan pelampiran identitas komunal yang tegas untuk menghadapi kelompok luar yang mengancam dalam sebuah doktrin jihad sebagai sikap dan tindakan mulia untuk melindungi sistem baru masyarakat beriman atas nama Tuhan (jihad fi sabilillah).

Jelaslah, periode ini adalah periode historis Islam dalam pengertian sebagai situasi dan ruang bagaimana pesan universal dari pembebasan dan penghormatan martabat manusia yang ditegaskan pada wahyu Makki memperoleh wujud aktual dalam sejarah manusia sejalan dengan kesanggupan internal yang melekat dalam sistem kebudayaan dan intelektual masyarakat waktu itu.

Pada cermatan penulis, periode ini telah dijadikan parameter utama generasi selanjutnya dalam mengukur keabsahan pendekatan mereka atas wahyu Al-qur’an yang dengan menarik secara sembrono aspek ajaran dan tradisi kultural dalam doktrin mengikuti Al-Salaf Al-Shalih sebagai satu ideologi bebas kritik.  Dari sinilah pula terjadi perdebatan otentisitas islam yang nyaris saling bersilang.

Pelapisan ideologis dalam sejarah atas pesan praxis agama

                Sementara setelah wafatnya nabi terjadi pertikaian politis yang efeknya berlangsung sampai sekarang. Masyarakat beriman tumbuh berkembang menjadi satuan masyarkat politis dibawah kepemimpinan para Khalifah (pengganti Nabi). Praktek mereka dianggap sunnah (tradisi) Islam paling otentik yang diyakini memperoleh sandaran kuat dari tradisi sang Nabi. 8

Pasca empat khalifah terpercaya, masyarkat muslim tumbuh dan berkembang dalam pertaruhan agama negara dibawah dinasti-dinasti yang mengklaim memiliki legitimasi kharismatis dari lingkaran keluarga kenabian secara langsung atau tidak (syi’ah dan sunni) dalam waktu sangat panjang (sampai penutupan resmi Khilafah Utsmaniyah tahun 1924-an). Pesan Islam mengalami kristalisasi dalam doktrin-doktrin yang di ideologikan dalam pertaruhan kuasa negara.

Dalam pertaruhan negara itulah wahyu islam tumbuh dan berkembang dalam pelembagaan keilmuan islam yang sangat akademis dengan orientasi kalam skolastis dan hukum (fiqh) yang sangat formatif. Dengan diawali oleh Ibn Idris Al-Syafe’i (abad Ke-2 H) yang mereduksi metode ijtihad ke dalam qiyas dan dibakukan oleh ijma’. Meskipun terdapat beberapa pendekatan lain, akan tetapi secara umum ditentang oleh epistem qiyas dan ijma’. Madzhab hukum Andalusia yang dikukuhkan ibn Hazm selama beberapa abad ditolak sebagai bagian mainstream sunni, meskipun terbukti kemudian pandangan-pandangan sempalan dzahiriyah memiliki relevansi kuat dalam arus libertian masyarakat modern terutama yang terkait dengan hak-hak perempuan.

 Hal yang perlu dicermati, tradisi fiqh dan kalam skolastis sesungguhnya sangat memberi cetak biru (blue print.peny.) pandangan dunia (weltanschauung) masyarakat muslim dalam mengukur otentisitas kebenaran Islam9, padahal kedua tradisi ini dicurigai memiliki muatan ideologi kekuasaan dalam pertaruhan-pertaruhan rumit wacana pemikiran Islam di abad pertengahan Islam yang kemudian dinyatakan tertutup di penghujung abad 14 H/X M.10

Secara khusus, dalam perkembangan mutakhir sekarang, hukum Islam dengan segenap turunan tafsirannya telah menjadi isu paling kuat dalam mengukur keabsahan kesetiaan individu maupun kelompok muslim atas syari’at dengan melupakan kenyataan sesungguhnya dari temporitas hukum dalam sejarah, lebih jauh lagi pada pembacaan adanya penarikan semena-mena konstruksi fiqh islam dari lingkaran wahyu madani yang pada dasarnya lebih merupakan respon spesifik agama pada sejarah dalam penerapan prinsip-prinsip wahyu Makki. Dalam banyak kasus kontemporer, islam sebagai ‘pesan keagamaan’ telah lebih difahami dalam identitas lembaga agama dalam kategori-kategori hukum dan kalam skolastik yang dalam banyak hal diturunkan dari pengalaman Islam sebagai relasi kuasa negara, dan konstruksi pemikiran islam yang ditarik dari lingkaran wahyu madani yang temporal. 11

Problem inilah, dalam prakiraan penulis, yang menyebabkan lapisan-lapisan simbolistik dari lembaga-lembaga agama jadi menjadi lebih dominan dibanding dengan pesan essensial agama itu sendiri. Faktor inilah, dalam dugaan penulis, uyang melatari kemunculan epistem dalam tradisi Ushul Fiqh mutakhir yang dipelopori oleh Ibn Qayyim Al-Jaujiyyah, Najmuddin Al-Thufi, Izzuddin Bin Abd Al-Salam, Ibn Ishaq Al-Syatibi, dan paling mutakhir Muhammad Syahrur yang menggariskan sebuah pendekatan baru dalam hukum yang lebih etis-pragmatis dengan mengedepankan nilai-nilai dari tujuan syari’ah.

Menarik untuk dicermati pandangan Muhammad syahrur yang menyatakan bahwa islam secara substantif adalah identitas yang dapat disandang seluruh agama yang meneguh-asaskan keberadaan Tuhan, keyakinan atas ikhwal eskatologis (akhirat), dan komitmen yang kuat untuk menjalani amal shalih.12 Dalam ranah ini, risalah muhammadiyah ditegakkan sebagai saksi dan penguji (muhaiminah) atas kebenaran wahyu Allah yang diberikan kepada ummat manusia yang terlampir dalam banyak agama dunia, bukan untuk menolak dan meniadakan keberadaan mereka.

Seorang muslim pada akhirnya, bukan sekedar istilah yang dilampirkan pada seseorang karena lahir dalam suatu komunitas yang mengaku penganut agama Islam,  tetapi dia yang menerima dan sanggup menjalankan prinsip-prinsip universal kemanusiaan islam dalam pengertian yang sesungguhnya sebagaimana menjadi nilai dasar dari misi seluruh nabi.

Khatimah

                Berdasarkan pemaparan diatas, diperlukan keberanian untuk membuka lapisan-lapisan yang mengurung identitas agama dalam ruang sejarah dan sosial yang sangat rumit. Setidaknya diawali oleh pemahaman atas peran kerasulan Muhammad SAW. Sebagai pengukuh-asasan atas kontinuitas pesan pembebasan yang dibawa oleh segenap agama langit, sehingga Islam dalam pengertian sesungguhnya dipandang sebagai agama kemanusiaan (the religion of humanity) yang terbuka. Penganut Islam seyogyanya menjadi tokoh dalam barisan terdepan dalam dunia yang terbuka pada perjuangan pembebasan yang ditegakkan kepada penerimaan atas inklusifitas kebenaran serta pengakuan pluralitas atas adanya kemajemukan pandangan manusia dalam memahami kebenaran Ilahiyah.

                Term Islam bukanlah term simbolik melainkan sikap aktif dalam sejarah kemanusiaan, berjuang bersama umat manusia dunia memperjuangkan kemerdekaan dari penindasan, ketidak adilan, dan pencapaian martabat luhur. Kerasulan dan kenabian pada intinya merupakan kehadiran Tuhan di muka bumi dalam membebaskan manusia dalam pengertian yang sesungguhnya. Tepatlah apa yang dinyatakan oleh Nasr Hamid Abu Zaid, “Seruan Islam Pada Intinya Adalah Pengukuh-Asasan Nalar Dalam Lapangan Pemikiran Dan Pengukuh Asasan Keadilan Dalam Kehidupan Masyarakat”.

 

 * Penulis adalah dosen Fak.Dakwah UIN  SGD,  sering  mengisi  forum diskusi  di  lingkungan  PC  PMII  Kabupaten  Bandung




1 Mohammad Arkoun, seorang cendikiawan muslim modern kelahiran Al-jazair yang tinggal dan mengajar di Prancis, dalam banyak karya-karya ia menawarkan suatu pendekatan baru atas studi Islam yang lebih bebas ideology yang melekat pada corpus-corpus muslim dalam ragam disiplin, sehingga dapat ditemukan otentisitas Islam yang benar-benar terbuka dengan nilai-nilai praxis actual. (lihat Mohammad Arkoun, Nalar Islam dan Nalar Modern; Berbagai Tantangan dan Zaman Baru,INIS: Jakarta, 1996)

2 Farrid Essack melallui elaborasinya yang cukupp mendalam berdasarkan pengalaman panjangnnya dalam menentang aphartheid di afrika Selatan menampakan pandangan-pandangan libertian tentang wacana pembebasan dalam al-Quran dalam tesisnya”Qur’an Liberation an Pluralism an Islamic Perspective Of Intereligeous against oppression”. Pendekatan ynag hampir serupa tetapi cenderung mistis penulis temukan dalam karya Mahmoud Mohammed toha dalam “The Second Message Of Islam” yang diterbitkan Syracuse Univesity Press(1983).

3 Mahoud Toha menyebut wahyu Maki sebagai pesan kedua. Seruan utamanya adalah Islam dalam pengertian kepasrahan manusia atas Tuhan sebagai msisi umum Kenabian. Dalam pesan kedua, Islam disampaikan dalam identitas universal yang dalam tataran ideal merupakan system etik global modern saat ini.

4 Sebagian mufassir menafsirkan sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang) sebagai cerita penyelematan profetik, yakni kisah Nabi Musa, Nuh, Ibrahim, Ad, Tsamud, Luth bukan nama lain surat  Al-Fatihah. Ketujuh kisah tersebut dianggap sangat penting karena memberikan gambaran dasar keNabi-an di masa lampau yang menjadi teladan dasar bagi ketahanan dakwah serupa yang diembang Nabi Muhammad SAW.

5 Wewenang, meminjam istilah Arkoun, sebagai “keterikatan semesta seorang individu atau suatu kelompok pada kata-kata dan tingkah laku seorang individu lain yang membawahkan dirinya sendiri terhadap tujuan-tujuan mereka yang mengikutinya”. Wewenang tidak mempersyaratkan persatuan, penaklukan, ketertundukan maupun pemberontakan.

6 Sangatlah sulit dimengerti pandangan yang menempatkan prasyarat keislaman individu pada keterikatan formal negara dalam struktur hierarkis kekuasaan agama seperti yang diserukan beberapa kalangan sementara ini.

7 Lebih luas dapat dibaca dalam Mahmoud Thaha, The Second Message, The Syracuse Iniversity Press, 1983.

8 Madzhab-madzhab hokum Sunni paling awal (Malikyah dan Hanafiyah) sangat mempercayai tradisi kolektif masyarakat Muslim awal sampai era Tabi’in sebagai otoritatif di atas keabsahan hadist-hadist personal (Ahad). Sampai ketika Ibn Idris Al-Syafi’I membongkar paradigma efistemologi Fiqh dengan menempatkan hadist Ahad di atas sunnah masyarakat yang tidak lagi dipercaya dapat melindungi otentisitas kebenaran Islam karena fitnah yang melanda kaum Muslimin.

9 Bahkan Dr. Abid al-Jabiri menyebut peradaban Islam sebagai peradaban fiqh sebagaimana yang dikenal Yunani dengan peradaban filsafatnya. Masyarakat Muslim dalam keseluruhan kompleksitas peradaban ditetukan oleh hubungan relasional nilai normative syari’ahmad baso  yang diturunkan dalam fiqh. Seringkali ukuran kebenaran syari’ahmad baso  diikat oleh anggitan-anggitan fiqh dengan seluruh variannya.

10 Ideologi-ideologi yang berkembang dalam sebuah struktur kebudayaan masyarakat Muslim abad pertengahan berikut berbagai pertaruhan politik-ekonomi dan sosial berpengaruh sangat kuat terhadap beragam tafsir ajaran dalam Al-Qur’an yang kemudian diturunkan dalam turats Islam (lihat dalam Dr. Nasr Hamid Abu Zaid, Naqdl Khitab al-Dieny, Sina: Kairo, t.th)

11 Lihat Abdullah Ahmed al-Naim, Dekonstruksi Syari’ahmad baso ; Wacana Kebebasan Sipil, Hak Azasi Manusia, Dan Hubungan Internasional dalam Islam,pen. Ahmad Suaedi, cet. I Pustaka Pelajar: Yogyakarta

12 Lebjh luas dapat dibaca dalam Dr. Muhammad Syahrur, Iman dan Islam: Aturan-aturan Pokok. (penerjemah: Zaid Su’di), Jendela: Yogyakarta, 2002, hlm. 13. dst.