Sebanyak tujuh orang yang selama ini dianggap berjasa kepada bangsa, negara dan perdamaian memperoleh penghargaan Gus Dur Award yang diberikan dalam peringatan harlah ke 9 PKB di Hotel Borobudur Jakarta, Jum’at (27/7).
Mereka yang menerima penghargaan ini adalah LB Moerdani, Harry Tjan Silalahi, Jacob Oetama, Ken Sudarto, Alfred Simanjuntak, Oey Hay Djoen dan Gedong Bagus Oke. Tidak semua tokoh tersebut bisa hadir untuk menerima penghargaan karena sebagian sudah meninggal sehingga diwakili oleh keluarganya.

Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani adalah mantan panglima ABRI. Prestasinya terukir sebagai penata organisasi intelijen di tubuh militer. Ia merupakan penggagas Badan Intelijen Strategis (Bais) pada 1983 Dia juga sukses mereorganisasi sejumlah komando daerah militer dan memodernisir peralatan TNI semasa menjabat Pangab.

Harry Tjan Silalahi dikenal sebagai peneliti senior bidang politik, budaya dan pertahanan dan aktif di CSIS (Center For Strategic & International Studies). Sejak awal tahun 50-an, ia mulai aktif memberikan kontribusi dalam dunia politik nasional dan banyak menulis di berbagai surat kabar dan buku.

Jakob Oetama adalah Pemimpin Umum Harian Kompas dan Chief Executive Kelompok Kompas-Gramedia. Ia menawarkan jurnalisme damai dan berhasil membuka horizon pers yang benar-benar modern, bertanggung jawab, nonpartisan, dan memiliki perspektif jauh ke depan.

Ken Sudarto adalah tokoh periklanan Indonesia dan pendiri Matari Advertising. Dialah yang mengkonsep pencitraan PKB sebagai partai yang nasionalis religius dan modern sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas.

Alfred Simanjuntak adalah pencipta lagu nasional ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Pria Batak kelahiran 8 September 1920 itu juga merupakan pencipta mars dan hymne PKB. Dalam usianya yang lebih dari 80 tahun, ia masih sehat dan menerima secara langsung penganugerahan ini.

Gedong Bagus Oka adalah tokoh pembaruan Hindu dan gerakan anti kekerasan di Indonesia. Ia termasuk salah satu tokoh yang tergabung dalam Gerakan Moral Nasional untuk meredakan konflik yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu.

Oey Hay Djoen adalah mantan tahanan politik Pulau Buru bernomor punggung 001 (Pramoedya bernomor 007). Secara khusus Oey menerjemahkan buku-buku yang ditulis oleh pemikir Sosialisme, antara lain: Karl Marx, Frederick Engels, G.V. Plekhanov, N.G. Chernyschevsky, Rosa Luxemburg dsb. Sebagai budayawan Oey telah membukukan kumpulan puisinya.

Selain memberikan Gus Dur Award, Harlah ke 9 PPKB ini juga memberikan penghargaan Bakti Khidmad PKB kepada para tokoh yang dianggap berjasa dalam mendirikan dan mengembangkan PKB. (sumber : Cyber PB. PMII)