Oleh: Asep Bunyamin

Enam purnama telah saya lewati tanpa hambatan yang berarti sedikitpun. Dan sekarang adalah purnama terakhir yang harus saya lewati agar dapat menyempurnakan seluruh ilmu yang telah saya amalkan selama itu. Di purnama terakhir ini segalanya dipertaruhkan. Keberhasilan perjuangan mencari ilmu ajaib ini selama enam purnama akan sirna jika pada purnama terakhir ini aku tak sanggup melewatinya dengan sukses. Sungguh perjuangan yang sangat melelahkan.

 

Jika saya telusuri perjalanan selama enam purnama, selalu saja ada hal yang aneh setiap kali saya selesai melaksanakan ritual ini. Biasanya, pada pagi harinya saya selalu didatangi oleh beberapa orang yang tak dikenal. Mereka datang hanya sekedar untuk menanyakan perihal pribadi mereka masing-masing. Mulai dari jodoh, masa depan mereka, nasib, bahkan ada pula yang menyuruhku menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Entah apa yang ada dalam benak mereka tentang diri saya?. Meski saya berusaha untuk selalu menolak apapun keinginan mereka dan mengatakan bahwa saya adalah manusia biasa, saya selalu tak tega pada mereka yang telah datang jauh-jauh ke tempat tinggalku. Saya selalu menyarankan pada mereka untuk melapalkan beberapa ayat dalam kitab suci dengan keyakinan penuh. Itu saja tak lebih. Tak pernah saya menyuruh mereka melakukan sesajian tertentu atau melapalkan mantra-mantra yang dapat dijadikan obat mujarab untuk menyembuhkan hasrat mereka.

Saya selalu menyebut keinginan mereka dengan hasrat. Hasrat untuk sembuh dari penyakit, mendapat jodoh, mencari dan melanggengkan kekuasaan, mendapat penghormatan dari manusia, mencapai cita-cita idealnya. Saya selalu bilang pada mereka untuk tidak memiliki hasrat yang neko-neko. Manusia memang tak aneh, mereka selalu di sibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memuaskan hasrat mereka. Sebagian besar waktu yang disediakan oleh Tuhan tersita habis untuk membangun citra yang baik di hadapan manusia lain, misalnya. Atau sibuk mengejar cita-cita dan mempertahankan kekuasaan. Mereka lupa bahwa masih banyak tugas penting sebagai manusia. Melayani kemanusiaan, membebaskan kaum lemah dari penindasan, membantu orang lain.

Ada sebagian di antara mereka yang enggan disebut keinginannya dengan hasrat. Mengerikan katanya. Mereka berkilah bahwa hasrat lebih tepat dikatakan pada manusia yang tak berpendidikan. Meski saya selalu tak mengerti dengan apa yang mereka katakan, kupikir mereka ada benarnya juga. Tapi apakah benar mereka berpendidikan?. Kalau emang iya, kenapa juga mereka mau saya bohongi dan memintaku untuk mengabulkan segala hasratnya?. Bukankah masih ada Tuhan yang berjanji akan mengabulkan setiap doa yang mereka minta. Apakah mereka sudah tak lagi percaya pada Tuhan?. Atau mungkin saya dijadikan Tuhan oleh mereka?. Ah, tak mungkin. Pikiranku terlalu ngawur jika beranggapan seperti itu. Mereka kan orang yang taat beragama. Bahkan di antara mereka ada yang sudah berkali-kali naik haji ke tanah suci, setiap bulan ramadhan mereka rela menginfakkan hartanya bagi fakir miskin. Apakah itu tak cukup membuktikan bahwa mereka orang taat beragama?. Namun, anehnya di antara mereka ada juga yang dikabarkan merampok uang negara (uang rakyat), meski selalu bebas dari tuntutan hukum. Maklum mereka kan pejabat negara, jadi bisa saja hukum diputar balikkan sesuai keinginannya.

Saya sendiri pernah diajak oleh salah seorang di antara mereka yang mengaku sebagai pejabat negara untuk ikut naik haji bersama dengan rombongan instansi yang dipimpinnya dengan gratis, karena ongkosnya ditanggung oleh negara. Namun tawaran itu dengan tegas saya tolak. Saya memang belum pernah naik haji, bukan karena saya tak punya ongkos untuk pergi ke tanah suci, hanya saja perasaan saya selalu tak mengijinkan. Saya pikir lebih baik ongkos untuk naik haji dipakai untuk membiayai makan keluarga dan untuk pendidikan keempat orang anakku. Belum lagi masih banyak tetanggaku masuk kategori orang miskin dan yang dimiskinkan. Berdasarkan sensus terbaru, dikampungku hampir 90% warga termasuk keluarga tidak mampu. Banyak di antara mereka dilarang bersekolah hanya gara-gara tak bisa bayar ongkos sekolah yang semakin mahal. Tentu saja hal itu membuat di kampungku tak memiliki generasi masa depan yang berpendidikan. Padahal menurut undang-undang yang dibuat oleh para pejabat tersebut, bahwa mendapat pendidikan yang layak adalah hak setiap warga negara.

Saya sendiri kadang heran, di negeri yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk nonton sinetron yang tak mendidik dan melihat tayangan gosip selebriti di TV, para pejabat masih saja mau menghabiskan uang rakyat hanya untuk kepentingan pribadi mereka, meskipun itu ibadah haji, saya tetap tidak setuju. Bukankah lebih baik uang yang dipakai untuk naik haji yang konon katanya menghabiskan dana sampai milyaran rupiah pertahun dipakai untuk membantu rakyat yang selama ini selalu disebut-sebut dalam kampanye menjelang pemilu “mereka perjuangkan”. Membangun sekolah di daerah terpencil misalnya, atau membangun rumah sakit demi meningkatkan pelayanan kesehatan. Saya yakin mereka akan mendapat pahala mabrur sebelum naik haji.

Anehnya, mereka itu pandai berkilah, “kan mumpung jadi pejabat, besok lusa belum tentu, biar rakyat nanti saja belakangan”. Ada juga yang bilang “ongkos untuk menjadi pejabat seperti sekarang ini sangat mahal, maka wajar dong menggantinya”.

Pikiran saya selalu buntu ketika berhadapan dengan alasan-alasan yang mereka ajukan. Meski bisa saja saya membantah bahwa apa yang mereka katakan adalah “kebohongan publik”, dan “rekayasa semata”. Kadang saya pun selalu protes bahwa ibadah mereka yang menghabiskan uang rakyat itu tak mengubah sedikitpun perilaku mereka terhadap orang banyak. Yang kaya tetap saja bakhil, pejabat tak berhenti korupsi, jumlah orang miskin tak berkurang.

Disadari atau tidak sebagian besar manusia menghabiskan waktunya dengan bahasa. Sebagai sebuah teks, bahasa merupakan kumpulan kata-kata. Bahkan konon, banyak orang tergelincir karena salah memakai bahasa. Begitu hebatnya bahasa, sehingga ia bisa dijadikan senjata untuk menghantam musuh. Terutama musuh politik. Karena bahasa pula banyak orang yang sukses mempertahankan kekuasaan. Bahkan di zaman orde baru, bahasa dijadikan alat untuk mempertahankan kekuasaan dan menghegemoni setiap kebijakan yang di keluarkan pemerintah, yang pada akhirnya berbahasa pun ditentukan oleh peraturan pemerintah.

Contoh kecil, ketika masyarakat atau warga Negara hendak melakukan kritik, harus diembel-embeli dengan “kritik yang membangun”, sementara mahasiswa yang hendak melakukan demonstrasi harus di lakukan “secara proporsional” dan “tidak ada pihak yang menunggangi”.

Meskipun hal tersebut terlihat sepele, namun akibatnya sangat jelas terlihat. Masyarakat di didik tidak kritis karena harus berpikir berkali-kali karena takut kritiknya “tidak membangun” atau “tidak sesuai prosedur” dan di anggap “subversif”. Keuntungan dari ini jelas membuat pemerintah “aman” karena masyarakat bungkam dan bisu memberi kritik pada pemerintah.

Makanya tak heran, kalau rezim politik biasanya menjadikan bahasa sebagai alat untuk menghancurkan setiap langkah yang hendak meruntuhkan kekuasaannya. Lewat bahasa pula mereka bisa menjadikan dirinya sebagai rezim kebenaran yang tak pernah salah. Kalaupun salah, itu karena “peluru nyasar”, “kesalahan prosedur” atau demi “kepentingan bangsa dan Negara”.

******

Hari semakin senja dan saya harus mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan malam purnama terakhir ini. Selepas shalat maghrib, seperti biasa saya sempatkan untuk membaca Al-Qur’an. Saat ini saya seperti berada dalam labirin yang tak bertepi. Jangankan untuk memahami hidup yang memang misterius, untuk sekedar memahami tentang diri sendiri pun saya tak mampu. Terlebih jika saya selalu di hadapkan pada berbagai hasrat yang selalu ada. Saya selalu berusaha untuk membuang jauh-jauh hasrat-hasrat itu. Tapi tetap saja hal itu tak membuat saya berhenti untuk memiliki hasrat yang lain. Bahkan jikalau hasrat itu telah terpenuhi selalu disusul dengan hadirnya hasrat yang lain. Apa pula artinya hidup ini jika kita selalu disibukkan untuk menyelesaikan hasrat?. Bukankah hasrat adalah sumber penderitaan*.

Seperti saat ini saya pun sedang sedang berhasrat untuk menyempurnakan ilmu berdasar dari mimpi yang selama tujuh bulan saya alami. Apakah saya pun harus ikut menderita karena keinginan untuk mewujudkan hasrat tersebut. Ah, alangkah naifnya jika hal ini saya lakukan. Atau mungkin saya harus mengubur hasrat tersebut jauh-jauh agar saya tak menderita.

Waktu terus beranjak membuat malam semakin larut. Purnama di atas sana memancarkan sinarnya semakin terang. Suasana malam semakin sunyi senyap. Udara dingin membuat tubuh saya menggigil. Saya masih belum beranjak dari tempat shalat. Pikiran saya semakin kalut. Saya harus memilih atau tidak memilih mewujudkan hasrat tersebut. Terbersit tanya dalam hati. Apa yang hendak saya cari jika hasrat tersebut terwujud?.

Di tengah kebingungan yang melanda, tak terasa malam terus beranjak semakin larut. Sudah sepertiga malam terlewati, artinya saya tinggal memiliki waktu sebentar lagi; hanya sampai shubuh. Tanpa terasa, mata yang biasa tahan terhadap rasa kantuk kali ini sudah tak tahan lagi. Saya pun tertidur dan tak ingat lagi tentang apapun.