Oleh : Asep Bunyamin

Judul : Anti Kapitalisme For Beginner

Penulis : Simon Tormey

Penerjemah : Wahyu

Pengantar : Dita Indah Sari

Penerbit : Teraju

Cetakan : I, Juli 2005

Tebal : xxxiv + 300 halaman

Salah satu tren yang sedang populer dan berkembang akhir-akhir ini adalah semangat anti kapitalisme. Hal ini tidak hanya melanda negara-negara berkembang yang selalu menjadi eksploitasi dari negara-negara maju tetapi juga melanda negara-negara adidaya yang justru tempat lahir dan berkembangnya kapitalisme. Membaca kapitalisme, kita tidak bisa lepas dari berbicara tentang ekonomi. Sekalipun dalam perkembangannya kapitalisme juga telah mempengaruhi politik, sosial, budaya dll. Kapitalisme yang mengembangkan perekonomian bertumpu pada pemilik modal berhasil menyihir dan menghipnotis banyak orang untuk secara sadar ataupun tidak mendukung adanya kapitalisme.

Perkembangan kapitalisme nampak pasca revolusi industri di Inggris. Hal ini ditandai ketika negara-negara Eropa melakukan kolonialisasi dan invasi besar-besaran ke negara-negara di luar Eropa termasuk Indonesia. Negara-negara Eropa sangat berkepentingan dengan sumber daya alam, penaklukan tanah dan teritori di daerah jajahannya, juga berkepentingan menyebarkan dan melakukan penaklukan pikiran dan budaya. Dalam proses inilah mereka menyebarkan faham rasional, modern dan liberal. Kapitalisme berkembang beriringan dengan faham liberalisme di Eropa dan Amerika Serikat. Faham inilah yang selanjutnya melahirkan sistem demokrasi liberal.

Nampaknya tesis Francis Fukuyama tentang the end of history yang berbicara akhir dari kehidupan didunia adalah kemenangan bagi kapitalisme global dan demokrasi liberal mendekati kenyataan. Di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, kapitalisme menancapkan akarnya begitu kuat bahkan bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi. Salah satu karakteristik utama dari kapitalisme adalah menciptakan ekonomi yang bertumpu pada penguasaan pasar oleh para pemilik modal yang nantinya mereka bisa berperan dan memainkan harga di pasar sesuai dengan keinginan.

Kapitalisme memandang bahwa suatu masyarakat akan dikatakan baik jika pasar ideal/bebas yang steril dari nilai-nilai lain. Bahkan dalam perkembangannya, kapitalisme menjelma menjadi sosok yang menampilkan ketidakadilan dalam kehidupan terhadap manusia, masyarakat dan alam.

Munculnya gerakan antikapitalisme berawal dari keprihatinan sepak terjang kapitalisme yang telah banyak melahirkan keganjilan dalam kehidupan. Kapitalisme sering kali menampilkan sesuatu yang kontradiktif. Ia masih menampilkan sistem yang tidak manusiawi, dengan kecenderungan dehumanisasi. Kapitalisme telah menjadi realita harian yang tak bisa dihindari. Prosesnya, berlangsung sangat cepat dan kompleks, dengan jangkauan aspek-aspek yang luas, tanpa dapat dihentikan meresapi seluruh bidang kehidupan manusia; ekonomi dan ekologi, sosial dan politik, serta kebudayaan Simon Tormey, seorang guru besar politik dan teori kritis di University of Nottingham, Inggris, menulis sebuah buku Antikapitalisme for beginner yang secara khusus direkomendasikan bagi para pemula yang tertarik dengan isu seputar kapitalisme.

Dalam buku ini, Tormey menjelaskan bahwa gerakan antikapitalisme harus dipahami sebagai sebuah ide, sebuah gagasan. Karenanya, gerakan antikapitalisme harus memiliki ideologi yang jelas sebagai landasan gerak untuk melawan ketidakadilan yang diciptakan oleh kapitalisme. Kemiskinan ideologi telah melahirkan problem yang sangat akut bagi gerakan antikapitalisme. Sehingga, alih-alih menawarkan satu konsepsi alternatif yang utuh untuk menggantikan sistem kapitalisme, yang tampil kemudian adalah sekedar mobilisasi temporer tanpa mampu merumuskan wajah masa depan bumi yang lebih baik dan adil.

Kapitalisme selalu disandingkan dengan demokrasi liberal yang digunakan sebagai penopang agar sistem kapitalisme ini. Seperti di Indonesia, adopsi sistem kapitalisme yang berkembang, alih-alih membawa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia pada kenyataannya malah justru sebaliknya, seperti diungkap oleh Dita Indah Sari dalam pengantar yang ditulisnya dalam buku ini. Menurutnya,, indikator kegagalan demokrasi liberal yang diagungkan oleh Francis Fukuyama tersebut dapat dilihat dari ketidakmampuan alat-alat dan mekanisme demokrasi memberikan penyelesaian terhadap persoalan-persoalan kesejahteraan rakyat (xvi).

David Korten –salah seorang kritikus kapitalisme –dalam bukunya The Post Corporate World ; Live After Capitalism mengutip buku dari Kenneth Boulding, The Image, yang berbicara tentang bagaimana sesungguhnya kita hidup dalam imajinasi yang diciptakan oleh mereka yang berkepentingan. Kita memiliki cerita-cerita indah yang kenyataannya telah membentuk picture in our head (gambaran dalam kepala kita). Dari sekian banyak cerita tersebut, yang selalu mendapat pembenaran adalah cerita yang di dukung oleh para penguasa. Cerita-cerita indah tentang kapitalisme telah terbentuk dalam otak dan pikiran kita karena propaganda yang sangat luar biasa dari mereka yang berkepentingan –termasuk para penguasa. Bahasa tentang indahnya kapitalisme sengaja diciptakan untuk mengelabui masyarakat bahwa barang atau produk yang mereka produksi adalah barang yang berkualitas. Melalui media, kapitalisme menyebarkan virus-virus yang mengesankan kehebatan mereka.

Kapitalisme telah membimbing masyarakat untuk secara tidak sadar mencintai dan mengikuti sistem yang mereka ciptakan. Para pelakunya mampu meyakinkan masyarakat bahwa kapitalisme mengandung kebajikan serta bisa mendatangkan manfaat bagi mayoritas masyarakat serta senantiasa menghadirkan kepedulian terhadap rakyat kecil. Kapitalisme banyak mendapat kritik tajam dan mendasar terutama dari para penentangnya yang menganggap bahwa kapitalisme yang selama ini hampir dianggap sakral, penuh kebajikan tersebut ternyata mengandung juga penindasan. Gejala ini didasarkan pada perkembangan kapitalisme yang dengan leluasa menciptakan pasar menindas kaum lemah. Kompetisi pasar yang diciptakan oleh kapitalisme berlangsung tidak sehat karena hanya melibatkan segelintir orang yang memiliki modal. Untuk memenangkan kompetisi di pasar, biaya produksi harus lebih kecil daripada saingan atau memperkecil jumlah pesaing dengan cara merger/menggabungkan perusahaan atau mengambil alih perusahaan pesaing. Dalam perkembangan selanjutnya, cara-cara seperti ini menyebabkan terjadinya monopoli pasar hanya oleh kaum pemodal.

Mengacu pada catatan diatas, ciri utama dari kapitalisme kontemporer saat ini adalah terciptanya korporasi global secara besar-besaran yang di dukung secara hukum dan politik oleh para penguasa sebagai pemegang kebijakan sebagaimana internasionalisasi perdagangan itu sendiri yang juga berskala global. Kapitalisme kontemporer ditandai dengan meningkatnya saling ketergantungan, yaitu oleh globalisasi ekonomi. Kenyataan ini jelas memunculkan satu gerakan untuk menyeragamkan berbagai kebutuhan perekonomian hanya bertumpu pada seorang pemilik modal. Salah satu contoh konkrit dari globalisasi ekonomi ini misalnya berdirinya Mc. Donald hampir diseluruh negara. Mc. Donald yang kita beli di Indonesia harganya sama dengan yang dibeli di Amerika. Pemiliknya melakukan korporasi dengan menanamkan modal di suatu negara dan hampir dipastikan keuntungan yang diambil akan diperoleh oleh si pemilik modal tersebut. Hal ini terjadi pula pada maraknya pendirian mall-mall berskala internasional seperti carrefour dll.

Berbagai teori ekonomi dijadikan sebagai landasan bagi pembenaran untuk membentuk jaring-jaring kapitalisme di berbagai negeri dan menekankan betapa perlunya negara tersebut melaksanakan pasar bebas. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Tormey, “Tentu saja landasan institusi-institusi ini adalah untuk membuat kehidupan kapitalisme lebih mudah, seperti memudahkan modal bergerak bebas bersaing secara adil, melalui reformasi mata uang, pembukaan pasar bagi persaingan bebas, dan menjamin keharusan adanya fleksibilitas pasar tenaga kerja. Semua itu untuk mendorong dan memfasilitasi kamampuan kaum kapitalis dalam mengeruk laba, yang menjadi alasan mereka berbisnis”. (hal 24).

Bangkitnya gerakan antikapitalisme akhir-akhir ini di baik di negara maju maupun di negara berkembang semakin menegaskan bahwa sistem kapitalisme telah melahirkan kesengsaraan pada masyarakat yang berujung pada ketidakadilan. Menurut Tormey, gelombang perlawanan terhadap kapitalisme kontemporer saat ini sebenarnya telah terjadi jauh sebelumnya. Di Perancis, tahun 1968 semasa Presiden Charles De Gaulle berkuasa, misalnya, buruh-buruh pabrik mobil Renault mogok dan bersamaan dengan itu mahasiswa di Paris turun ke jalan menolak sistem pendanaan kampus. Pemogokan buruh Renault dan demonstrasi mahasiswa Paris ini selanjutnya menjadi perlawanan rakyat Perancis yang melumpuhkan kota paris bahkan seluruh Perancis (hal 72).

Menurut Tormey, gerakan antikapitalisme saat ini belum mewujud sebagai gerakan ideologi alternatif yang massif, sehingga hasil yang diperolehnya pun belum maksimal. Masih banyak aktivis gerakan antikapitalis yang masih miskin ideologi. Gerakan ini hanyalah sekumpulan orang tanpa filosofi perjuangan yang tegas, tanpa kepemimpinan, tanpa program, tiada struktur, tiada mekanisme yang pasti, tanpa doktrin, pegangan teori apalagi organisasi yang solid. Gerakan ini, alih-alih menawarkan satu konsepsi alternatif yang utuh untuk melawan ideologi sistem kapitalisme yang ditentangnya. Yang berkembang dalam gerakan ini di identifikasi malah menghasilkan problem yang lebih akut daripada yang kita bayangkan.

Ketidakefektifan gerakan ini harus segera diselesaikan. Tormey menawarkan buku ini sebagai jawabannya. Sekalipun buku ini adalah for beginner (untuk pemula) namun sesungguhnya layak dibaca oleh siapapun yang memiliki kepedulian untuk melawan sistem kapitalisme. Solusi alternatif yang ditawarkan Tormey layak kita renungkan. Ia menawarkan solusi alternatif melawan kapitalisme dan demokrasi liberal yaitu dengan dengan memunculkan gerakan reformisme (yang lebih) kuat atau kembali pada sistem sosial demokrasi.

Sosial demokrasi merupakan tradisi pemikiran yang lahir pada akhir abad 19. gerakan ini berhubungan erat dengan gerakan buruh terorganisir atau partai buruh parlementer yang dibentuk untuk membela kepentingan rakyat pekerja. Tormey mengeksplorasi lebih jauh bahwa gerakan sosial demokrasi menggambarkan semua orang yang sepakat untuk membuat kerja kapitalisme bermanfaat bagi kepentingan masyarakat umum, sebagai lawan dari kepentingan bisnis besar dan yang kaya (hal 131). Dengan cara ini paling tidak, kapitalisme menjadi lebih bermanfaat untuk memelihara dan meningkatkan potensi produk kapitalis dan pada saat yang sama, melindungi para buruh dari fluktuasi siklus perdagangan dan kebutuhan mendesak mereka.

******

Apa yang dilakukan oleh Simon Tormey dengan karyanya ini merupakan kontribusi nyata untuk melawan gerakan kapitalisme yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern sekarang ini. Walau susah dicerna karena muatannya yang kompleks, tetapi buku ini perlu dibaca. Saat menelusurinya pun kita harus membaca secara komprehensif dan holistik agar pemahaman terhadap apa yang diungkapkan oleh Tormey bisa dipahami dengan benar. Buku ini masih merupakan grand teori tentang gerakan antikapitalisme. Dengan alasan inilah kita masih perlu penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dikemukakan oleh Tormey.

Bagi kalangan yang mendalami perkembangan wacana kapitalisme kontemporer, buku ini hanyalah pengantar untuk memahami lebih lanjut teori-teori gerakan antikapitalisme. Selesai membaca buku ini, kita akan dihadapkan berbagai pertanyaan yang belum terjawab oleh Simon Tormey sendiri. Selamat membaca. Wallahu a’lam bi al-shawab.