KOPRI

Adalah wadah bagi kader-kader perempuan PMII untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki, baik dalam hal wacana, politik, serta aspek-aspek lain yang merupakan hak fitrah dari seorang manusia., supaya tidak terkesan bahwa perempuan merupakan sub gender dari laki-laki, harapannya adalah sedikit demi sedikit budaya merendahkan martabat perempuan dapat terkikis.

2 Komentar (+add yours?)

  1. ai Maryati Shalihah
    Sep 11, 2007 @ 06:04:04

    Kerangka Acuan
    DISKUSI “SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM MEDIA MASSA”
    D A N
    PELUNCURAN BUKU “MEMBONGKAR SEKSUALITAS PEREMPUAN YANG TERBUNGKAM”

    Kartini Network dan LBH APIK
    Hotel Santika, 11 September 2007

    Latar Belakang
    Ketika membuka media massa cetak, atau menonton televisi, lalu berhenti sejenak dan mengamati berita yang ditampilkan oleh media massa tentang perempuan: Gambaran perempuan yang bagaimana yang lebih banyak muncul ? Bagaimana perempuan diposisikan dalam sebuah pemberitaan? Bagaimana sudut pandang penulisannya ?
    Beberapa pertanyaan diatas adalah faktor-faktor pendorong kami untuk pada tahun 2005-2006 melakukan penelitian tentang seksualitas perempuan dalam media massa. Melalui riset itu kami tidak saja ingin mencari jawaban atas pertanyaan tersebut namun juga mencari jawaban mengapa pertanyaan tersebut harus muncul. Hasil dari riset itulah yang ingin kami diskusikan dengan para partisipan acara ini.
    Media massa dalam sejarahnya selalu mempunyai peranan penting dalam pembentukan cara pandang dan perilaku masyarakat. Ia menjadi produser nilai sekaligus pelestari nilai yang dianut oleh masyarakat. Hari ini media massa sekurang-kurang telah menentukan apa yang menjadi pembicaraan dalam masyarakat dan membentuk opini yang berkesinambungan, dalam hal ini tentang gender dan seksualitas perempuan. Bahkan banyak dari kita gagal melihat persoalan gender dan seksualitas manusia dan khsusunya seksualitas perempuan yang terintegrasi sebagai visi dalam penulisan secara umum, ia hanya menjadi kolom kecil eksklusif sebagai kajian ilmiah atau hanya karena kewajiban akan adanya kolom ‘pemberdayaan perempuan’ yang seringkali dilewatkan oleh pembaca.
    Kebebasan untuk mengkritik dan kebebasan dari kotak-kotak yang membatasi media massa sudah mulai berkurang. Apalagi tradisi komunal kita membuat media massa tidak saja dibaca oleh pembelinya tapi oleh orang-orang disekitar pembeli. Sehingga majalah atau koran untuk dewasa misalnya juga dengan mudahnya dibaca oleh anak-anak. Hal ini semakin menegaskan bahwa media massa tidak saja menjadi pembentuk opini orang dewasa namun juga mulai menjadi pendorong bentukan citra tertentu pada anak-anak.
    Melalui fungsinya sebagai pencipta dan sekaligus pembentuk opini dan nilai-nilai media berfungsi pula untuk menjadi pelestari dan sekaligusmenjadi sarana untuk mereproduksi nilai-nilai sosial yang hegemonik. Citra perempuan yang sama secara terus menerus diproduksi melalui teks yang berbeda-beda. Teks media merepresentasikan norma dan nilai dominan yang dianut dan dianggap benar oleh masyarakat. Teks media menjadi penting dicermati karena ia merupakan representasi nilai dan pendapat kelompok dominan itu, misalnya bagaimana seorang janda digambarkan sebagai perusak dan ancaman bagi rumahtangga, atau bagaimana seorang homoseksual dianggap sebagai penderita penyakit jiwa atau kelainan kepribadian seperti terlihat dalam rubrik seksologi atau kolom konsultasi di majalah-majalah atau koran. Dalam masalah homoseksualitas misalnya, tak satupun ahli/psikolog/ psikiatris yang menjaga rubrik konsultasi itu yang menginformasikan bahwa sejak tahun 1981, WHO telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar sebagai penyakit jiwa dan pada tahun 1992 mengeluarkannya dari daftar klassifikasi penyakit ( International Classification Diseases ). Contoh lainnya liputan mengenai perempuan pekerja seks juga jarang – mungkin tidak akan — muncul di tabloid atau majalah khusus perempuan kelas menengah. Majalah perempuan identik dengan citra ‘perempuan baik-baik’ atau tepatnya perempuan pekerja kantoran sehingga dianggap tidak pada tempatnya membahas seksualitas dari mereka yang ‘bukan perempuan baik-baik’ seperti perempuan pekerja seks atau lesbian.Sebagai sarana pelestari nilai, media memang difungsikan untuk memunculkan apa yang disebut Judith Buttler sebagai abject atau kelompok yang dihinakan, agar kelompok lainnya yang dianggap normal dan baik itu bisa dilesatarikan.
    Media juga merupakan alat yang ampuh dalam menyebarkan nilai-nilai dominan baik untuk meneguhkan dan melestarikannya maupun untuk membentuk keyakinan, perilaku dan kepribadian seseorang atau masyarakat. Tentu saja media juga beragam sehingga media juga menentukan siapa pembacanya yang akan menerima reproduksi nilai tersebut. Dalam hal ini, media yang menyebar luas menjadi sangat penting posisinya, karena dia berbicara pada khalayak yang beragam cirinya. Misalnya, citra perempuan yang menyebar dalam masyarakat baik melalui iklan atau tulisan merupakan interpretasi dari ide femininitas yang hidup di dalam masyarakat. Citra tersebut lebih menunjukkan bentukan perempuan seperti yang diinginkan oleh penulisnya, dan ketika sudut pandang sang penulis adalah lebih kuat sebagai hasil bentukan budaya masyarakat yang patriarkhis, maka konsepsi feminitas patriarki yang akan membungkus penampilan perempuan dalam media, dan seringkali dengan kekayaan kosa kata dan keluwesan sang penulis gambaran itu dapat ditampilkan dengan sangat menarik, sehingga banyak orang menjadikannya sebagai citra ideal.
    Melalui analysis atas media diharapkan khalayak akan menyadari bahwa pola pikir mereka dipengaruhi oleh teks yang beredar dan teks tersebut mewakili hegemoni pemikiran tertentu. Sebaliknya ada teks-teks yang tidak dominan yang menjadi wacana alternatif terhadap teks yang dominan. Menyadari bahwa apa yang mereka anggap lumrah selama ini bisa jadi sesuatu yang sangat mencengangkan ketika dipandang dari sudut yang berbeda, dan menyadari bahwa apa yang mungkin dari sudut pandang yang berbeda, hal-hal yang mereka anggap kehebatan sesungguhnya adalah kejahatan dan apa yang mereka anggap lumrah dan benar selama ini, bisa menjadi suatu potret yang perih dan menyakitkan.
    Penelitian media tentang seksualitas perempuan dalam media ini merupakan bagian tak terpisahkan dari comparative study antara Indonesia dan India tentang Seksualitas 3 (tiga) kelompok perempuan marginal (janda, lesbian dan pekerja seks ) dalam bentuk life story.

    II. Tujuan
    Tujuan dari diskusi ini adalah:
    – Mengurai wajah seksualitas perempuan dalam media massa dan faktor2 penyebabnya.
    – Bersama-sama mencari sudut pandang baru penulisan tentang perempuan dan seksulitas dengan perspektif keadilan gender
    – Membentuk jaringan jurnalis berperspektif keadilan gender sebagai bagian dari upaya membangun budaya anti kekerasan

    III. Waktu & Tempat
    Tanggal: 11 September 2007
    Jam: 14.00-17.00 WIB
    Tempat: Hotel Santika

    IV. Pembicara, Moderator, Peserta

    Sambutan Pembukaan oleh:
    Nursyahbani Katjasungkana, SH (Koordinator Kartini Network)

    Pembicara:
    1. Sinta B.Situmorang, Kartini Network
    2. Effendi Gazali, Dosen Ilmu Komunikasi UI
    3. Ninuk Mardiana Pambudi, Wartawati
    4. Artis Korban Pemberitaan Media (dalam konfirmasi)

    Moderator: Myra Dyarsi
    Peserta:
    – Depkominfo
    – PWI, AJI, KPI dan organisasi wartawan yang lain
    – Sekolah Pers Dr Soetomo/Lembaga- lembaga pendidikan jurnalistik lainnya.
    – Wartawan yang menangani program / rubrik infotainment
    – LSM Perempuan, Komnas Perempuan dan Komnas HAM
    – APIK staff dan pengurus
    – Para individu yang terlibat penelitian

    Balas

  2. ita blora
    Apr 12, 2012 @ 10:49:18

    Manusia, seperti dikatakaan Aristoteles, adalah zoon politicon atau makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendiri,memenuhi kebutuhanya sendiri, dan mencapai tujuanya sendiri.Melainkan ia akan membutuhkan orang lain. Tidak terkecuali perempuan. Ia yang merupakan bagian dari masyarakat secara keseluruhan membutuhkan kerja sama dan keterlibatan aktif dilingkunganya.bila tidak ingin diasingkan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: